Lagi, jagat maya dihebohkan dengan video viral syarat akan kesan negatif alias perundungan yang dilakukan oleh siswa menengah pertama. Aksi pukul dan tendang tentu bukan hal yang pantas dilakukan oleh sesama siswa di sekolah, apalagi aksi tersebut dilakukan oleh 3 siswa ke salah seorang siswi karena alasan yang menurut akal sehat manusia, sepele.

Para siswa SMP asal Purworejo yang viral bukan karena prestasi, melainkan aksi intimidasi ini dikarenakan tidak terima atas ulah korban yang melaporkan kebiasaan para siswa yaitu suka meminta uang dengan paksa atau memalak kepada sesama siswa lainnya. Duh, dari kebiasaan ini saja pasti kamu tidak heran, Greaters, jika para pelaku sampai melakukan aksi negatif tersebut.

Video yang pertama kali diunggah oleh akun Twitter @black__valley1 dan kemudian dibagikan oleh akun Twitter @merapi_news ini mendapat perhatian dan kecaman oleh para netizen budiman di jagat maya. Tidak butuh waktu lama setelah video beredar, ketiga siswa yang menjadi pelaku langsung diperiksa oleh polisi beserta saksi, pelapor, dan korban.

Sumber: Kumparan

Peran Orangtua ketika Aksi Perundungan Terjadi

Terlepas dari tuntutan atau ancaman yang diberikan oleh ketiga pelaku perundungan tersebut, peran orangtua, baik sebelum atau sesudah terjadinya aksi perundungan tentu sangat penting. Bisa dikatakan, kejadian yang berada di lingkungan sekolah tentu menjadi tanggung jawab pihak sekolah dalam memberikan perlindungan dan kenyaman saat proses belajar mengajar berlangsung.

Akan tetapi, pihak sekolah sendiri hanya bisa sebatas mencegah dan memberikan peringatan terhadap siswa yang terlibat kejadian tersebut. Namun, bisa saja para pelaku atau siswa melakukannya di lingkungan luar sekolah atau rumah. Hal ini mengapa menjadi perhatian besar semua orangtua.

Ketika anak berada di lingkungan rumah yang bisa diawasi oleh orangtua mereka akan menunjukan perilaku yang baik. Apakah perilaku tersebut akan sama ketika mereka berada di luar rumah? Jawabannya jelas belum tentu. Aksi perundungan yang masuk ke dalam kategori perilaku menyimpang ini harus disikapi sebaik mungkin.

Menurut salah satu dosen Sosiologi UI, Daisy Indira Yasmine, M.Si, ketika perundungan sudah terjadi, baik orangtua yang memiliki anak sebagai korban atau pelaku perundungan harus memberikan suasana kondusif agar anak dapat bertanggung jawab. Dengan begini anak juga akan berkata jujur tentang apa yang terjadi.

Sebisa mungkin, orangtua harus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mengevaluasi nilai-nilai yang sudah diajarkan. Jangan coba untuk melindungi anak dengan cara membenarkan setiap perkataannya karena peran orang tua pada kondisi ini adalah sebagai penengah.

Dampak setelah viralnya video perundungan ini tentu dari pihak pelaku akan menjadikan hal ini sebagai pelajaran berharga. Akan tetapi, apakah jejak digital dan stigma negatif warga internet juga akan mereda? Pastinya tidak. Pada kondisi inilah peran orangtua juga tidak kalah dibutuhkan. Orangtua harus mendukung dan mendampingi anak agar dapat diterima lagi di masyarakat, terlepas dari perilakunya di masa lalu.

Tanamkan rasa kepedulian kepada anak sedari dini untuk memupuk kepekaan terkait lingkungan yang ada di sekitarnya. Selain menjadi sebuah kecerobohan orang tua dalam mendidik anak, kejadian perundungan ini tentu menjadi teguran kepada orangtua agar lebih memperhatikan pertumbuhan anak secara baik dan benar.

Nah Greaters, aksi perundungan ini tentu bukan untuk ditiru, melainkan sebagai pelajaran bagi kamu bahwa aksi sok-sok jagoan ini keuntungannya tidak ada sama sekali. Justru kerugian yang akan kamu dapatkan, baik masa sekarang dan di masa mendatang.

Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Apa itu Perilaku Menyimpang? Ini Dia Jawabannya