Proses penyebaran Islam di Nusantara tidak lepas dari peran aktif para ulama. Melalui merekalah Islam dapat diterima dengan baik dikalangan masyarakat. Diantara ulama penyebar ajaran Islam setelah Wali Songo adalah sebagai berikut

Hamzah Fansuri


Hamzah Fasturi hidup pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda sekitar tahun 1590. Pengembaraan intelektualnya tidak hanya Fansur-Aceh, tetapi juga India,Persia, Mekah, dan Madinah. Dalam pengembaraan itu mempelajari ilmu fiqih, tauhid, tasawuf dan sastra Arab. Hamzah Fansuri telah mempelopori metode takwil atau hermeneutika keruhanian. Sebagai contoh, dalam tulisanya Rahasia AhliMakrifat, Hamzah Fansuri menyampaikan analisisnya dengan tajam dan dengan landasan pengetahuan yang luas mencakup metafisika, teologi, logika, epistemology, dan estetika.


Baca Juga : Kisah Muhammad Al-Fatih


K.H Ahmad Dahlan

 

K.H Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1869. Nama kecil K.H Ahmad Dahlan adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara yang keseluruhanya saudara perempuan, kecuali adik bungsunya. K.H Ahmad Dahlan menimba berbagai ilmu dari banyak kiai, antara lain: K.H Muhammad Saleh Darat di bidang ilmu fiqih, K.H Muhsin di bidang ilmu Nahwu-Saraf (tata Bahasa arab), K.H Raden Dahlan di bidang ilmu falak (astronomi), Kiai Mahfuz Tremas, K.H Ayyat di bidang ilmu hadits, Syekh Amin dan Sayid Bakri Satock di bidang ilmu Al-Qur’an, dan Syekh Hasan di bidang ilmu pengobatan dan racun binatang.

Pada 18 November 1912 (8 Zulhijjah 1330) K.H Ahmad Dahlan mendirikan oraganisasi yang diberi nama Muhammadiyah. Organisisi ini bergerak di bidag kemasyarakatan dan pendidikan. Melalui organisasi inilah beliau berusaha memajukan pendidikan dan membangun masyarakat Islam. Pada usia 66 tahun, tepatnya tanggal 23 Februari 1923, K.H Ahmad Dahlan Wafat di Yogyakarta. Beliau kemudian dimakamkan di Karang Kuncen, Yogyakarta. Atas jasa-jasa K.H Ahmad Dahlan maka negara menganugerahkan beliau gelar kehormatan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

K.H Hasyim Asy’ari

 

K.H Hasyim Asy’ari lahir pada hari Selasa Kliwon, 14 Februari 1871 di Gedang, sebuah dusun kecil yang terletak di utara Kota Jombang, Jawa Timur. Ia merupakan putra ke-3 dari 11 bersaudara. Nama lengkapnya adalah Muhammad Hasyim, dengan tambahan nama Asy’ari yang dinisbatkan kepada ayahnya. Ayahnya adalah seorang ulama di Demak, Jawa Tengah.

Pada tahun 1926, bersama-sama dengan ulama berpengaruh lainya, seperti Kiai Abdul Wahab Hasbullah (Tambakberas) dan Kiai Bisri Syamsuri (Denanyar), Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi Nahdatul Ulama (NU), sebagai wujud perjuangan para ulama dalam membimbing umat Islam sekaligus melawan kaum penjajah saat itu. K.H Hasyim Asy’ari wafat pada 25 Juli 1947 dalam usia 76 tahun. Jenazahnya dimakamkan di komplek pemakaman pesantre Tebuireng.

 

Referensi :

Prabowo, Heri. 2013. Sejarah Kebudayaan Islam Untuk Madrasah Aliyah (MA) Kelas XII Semester 1. Bekasi: Sinar Mandiri.

Sumber Gambar : google.com


Penulis : Indri Yani