PERANG TELUK II (GULF WAR II) Agustus 1990-Februari 1991

Salah satu kejadian kolosal kontemporer yang pernah terjadi ialah Perang Teluk. Perang Teluk ini intinya ialah perebutan negara kecil di Timur Tengah bernama Kuwait yang kaya akan sumber daya alam terutama Minyak Bumi. Minyak bumi menjadi sangat penting bagi negara-negara dunia karena kebutuhan utama bahan bakar kendaraan mereka ialah Minyak Bumi. Maka wajar saja, wilayah yang kaya akan minyak akan menjadi rebutan.

Salah satu yang menarik dari Perang Teluk ialah Indonesia juga ikut terkena dampak dari perang tersebut. Penasaran? Simak berikut ini!

PENDAHULUAN
Perang Teluk II adalah sebuah nama perang yang terjadi di Timur Tengah pada akhir abad 20. Perang ini merupakan perang kelanjutan dari perang sebelumnya, yaitu Perang Teluk II yang terjadi pada tahun 1980-1988. Bila pada Perang Teluk I actor utamanya adalah Irak-Iran, maka perang Teluk II diaktori oleh Irak-Kuwait. Walau hanya berlangsung singkat sekitar 7 bulan, namun dampaknya cukup besar bagi Timur Tengah maupun dunia.

Bila dikatakan bahwa perang Teluk II ini adalah salah satu perpanjangan tangan dari Perang Dingin, ada benarnya juga. Karena US (Uni Soviet) dan AS (Amerika Serikat) tiada hentinya menyebarkan ideologinya ke pelosok dunia termasuk ke Timur Tengah. Maka ada intrik-intrik keterlibatan diantara keduanya dalam Perang Teluk II ini, US dan AS masing-masing menjadi pendukung/supporter bagi actor yang berlaga di medan perang. Mengenai latar belakang, jalannya perang dan dampak Perang Teluk II, akan dijelaskan pada sub-bab berikut.


Baca Juga : Kondisi Peninggalan Muslim Dewasa ini di Spanyol


Latar Belakang Perang Teluk II (2 Agustus 1990-28 Februari 1991)

Perang Teluk II ditandai dengan invasi Irak ke negara tetangganya yaitu Kuwait di tenggara, alasan Irak menginvasi Kuwait dirangkum sebagai berikut :

  1. Keinginan Untuk Menguasai Pulau Babiyyan dan Daerah Rumailah Yang Kaya Minyak di Kuwait Untuk Membangun Kembali Negeri Irak, irak yang sebelumnya telah berperang dengan Iran selama 8 tahun sejak 1980, telah mengakibatkan kehancuran pada kedua belah pihak. Terlebih lagi tidak ada kemenangan yang pasti diantara keduanya. Sehingga okupasi negara Kuwait adalah solusi untuk mendapatkan pemasukan negara untuk membangun kembali bangsa Irak. Irak pun dirugikan dengan pengurangan kuota minyak oleh OPEC akibat sanksi internasional terhadap invasi Irak ke Iran, sehingga produsen minyak utama negara teluk ialah Kuwait dan Uni Emirat Arab. Hal ini membuat Irak terpukul karena Irak sangat mengandalkan minyak sebagai komoditi utama negaranya untuk merekonstruksi kembali kerusakan akibat perang dengan Iran selama Perang Teluk I.
  2. Ketidakmampuan Membayar Hutang Kepada Kuwait, perlu diketahui bahwa perang Irak-Iran memakan biaya yang sangat banyak. Dukungan yang didapat Irak ketika menginvasi Iran membuat Irak mudah untuk meminjam dana kepada negara tetangganya, salah satunya Kuwait, yakni sebesar 14 Milliar Dollar. Karena tidak ada kecukupan untuk membayar hutang tersebut maka diindikasikan bahwa ini salah satu alasan Irak menginvasi Kuwait. Termasuk untuk sekaligus menguasai sumber minyaknya.
  3. Saddam Husein Mengklaim Kuwait Sebagai Wilayahnya “In justifying his invasion of Kuwait in August 1990, Saddam Husein claimed it was an artificial state carved out of the Iraqi coast by Western colonialist. In fact, Kuwait had been internationally recognized as a separate entity before Iraq itself was created by Britain under a League of Nations mandate after World War I”. Salah satu alasan Irak menginvasi Kuwait ialah bahwa Irak mengklaim bahwa Kuwait adalah bagian dari pesisir Irak yang di “potong” atau dipisahkan oleh kolonialis Barat. Padahal pada faktanya ialah bahwa Kuwait telah diakui secara internasional sebagai negara yang terpisah secara independen dari Irak sebelum Irak sendiri.
  4. Rapuhnya Kediktatoran Saddam Husein, seperti kebanyakan dictator yang lain di dunia, mereka mempunyai satu sifat kediktatoran yang khas, yaitu sikap paranoid atau rasa takut yang berlebihan akibat self center yang luar biasa.  Apa yang ditakutkan? Yaitu ketakutan akan tidak dicintai rakyatnya. Saddam Husein menggunakan cara-cara represif dalam mengelola negaranya, bahkan tidak segan untuk mengambil langkah kejam untuk memberantas pihak yang oposisi padanya. Seperti menghukum mati pemimpin syiah Irak, Imam Baqir Al-Sadr karena dituduh akan mengimpor Revolusi Islam Iran. Walau umat syiah di Irak sekitar 57 % namun Saddam Husein tidak peduli daripada ia akan sama digulingkan seperti di Iran. Lalu konflik dengan suku Kurdi di Utara juga menambah masalah bagi persatuan dalam negeri Irak semasa Saddam Husein. Sehingga dapat dipastikan bahwa masalah dalam negeri sendiri telah membuat rapuh kediktatoran Saddam Husein. Maka keadaan normal adalah keadaan yang harus dihindari, karena rakyat bisa terfokus kepada kediktatoran Saddam Husein dan upaya pemberontakan akan makin besar. Solusinya adalah mencari musuh bersama, dengan ini rakyat akan bersatu bersama dengan Saddam Husein untuk melawan musuh itu. Maka segera setelah perang Teluk I usai, upaya pencarian musuh bersama dilakukan. Mula-mula diawali dengan ikut campurnya Irak dalam konflik Perang Saudara Libanon. Konflik Libanon sendiri adalah konflik internal Libanon namun diintervensi oleh eksternal. Suatu konflik antara pendukung pemerintah Libanon dengan pemberontak yang menginginkan suatu perubahan dalam pemerintahan Libanon. Masing-masing diwakili oleh Kristen dan Islam. Irak membantu kelompok pemberontak untuk menjatuhkan Presiden Hafiz al-Assad. Konflik Libanon ini memakan korban sipil Libanon 130.000 lebih tewas.
  5. Ambisi Saddam Husein Menjadi Pemimpin Arab, Timur Tengah adalah sebuah medan laga para pemimpin negara untuk menjadi orang nomor satu. Karena pada hakikatnya bangsa Arab disatukan dengan Islam dan karakteristik fisik yang serupa, maka selalu ada persaingan image untuk menjadi orang nomor satu di dunia Arab. Sebelumnya sudah ada Gamal Abdul Nasser dari Mesir, Yasser Arafat dari Palestina, Hafiz al-Asad dari Suriah, Syah Reza Pahlevi dari Iran maupun Husni Mubarak dari Mesir. Saddam Husein selalu ingin menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang terkuat di Timur Tengah. Hal ini jelas terlihat ketika Saddam Husein melanggaar perjanjian Aljazair 1975 antara Irak-Iran tentang perbatasan dengan memulai perang terbuka pada tahun 1980. Ambisi Saddam Husein juga tampak pada keterlibatan Saddam Husein dalam konflik Libanon dengan memihak milisi Jenderal Michel Aoun untuk menjatuhkan presiden Suriah Hafiz Al-Asad. Lalu juga persaingannya dengan Husni Mubarak dari Mesir. Sepekan sebelum menyerbu Kuwait, 25 Juli 1990, Saddam Husein memberikan jaminan kepada Mesir bahwa Irak tidak akan menyerang Kuwait. Pada kenyataannya, Saddam Husein mengingkari janji dan memulai penyerbuannya ke Kuwait bahkan pada saat berlangsungnya Pertemuan Kairo 1990. Husni Mubarak baru saja dipuji karena meredakan konflik Irak-Kuwait bahkan hingga mampu diadakan Pertemuan Kairo. maka Husni Mubarak seperti dipermalukan ketika Irak menyerbu Kuwait. Pertemuan Kairo sendiri adalah konferensi tingkat tinggi yang digalang oleh negara-negara Islam OKI yang membahas tentang isu-isu HAM dan penetapan perjanjian HAM bagi negara-negara Islam pada umumnya pasca konflik Libanon dan Perang Teluk I. Namun tiga rezim (Arab Saudi, Irak dan Iran) seperti tidak mau mengikuti Pertemuan ini karena mereka punya kepentingan masing-masing. Seperti yang dilakukan oleh Irak yaitu menginvasi Kuwait ketika Pertemuan Kairo berlangsung.

Bagaimana hubungannya dengan Indonesia?? Tunggu kelanjutannya yaaa di part 2 ^^.

Referensi :

Isawati. 2012. Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat) Jilid I : Dari Peradaban Kuno sampai Krisis Teluk I. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Isawati. 2013. Sejarah Timur Tengah (Sejarah Asia Barat) Jilid II : Dari Revolusi Libya sampai Revolusi Melati 2011. Yogyakarta: Penerbit Ombak

Garis Besar Sejarah Amerika. Biro Program Informasi Internasional Departemen Luar Negeri AS. 2005

https://news.okezone.com/read/2017/08/02/18/1748144/historipedia-invasi-irak-ke-kuwait-mengawali-pecahnya-perang-teluk

http://www.history.com/topics/persian-gulf-war

http://m.viva.co.id/berita/dunia/941954-2-8-1990-irak-serang-kuwait
http://alfian374.blogspot.co.id/2015/03/piagam-madinah-deklarasi-kairo-dan.html (sumber ber-referensi)
http://wawasansejarah.com/sejarah-konflik-di-lebanon/
https://en.wikipedia.org/wiki/1975_Algiers_Agreement