Dalam detik yang terus berkutik

Ingatku mulai terasa rumit

Ada raga yang kulihat

Tercetak dalam lembar yang tak berukir


Pernah satu masa kau nanti aku lahir

Tanpa terpikir perjumpaan kita kan di titik nadir

Rasanya belum sempat ku katakan padamu di saat terakhir

Bahwa aku ingin kau selalu hadir


Bagiku kala itu tak kupahami takdir

Aku hanya mengerti pergimu sekelumit

Nyatanya kau biarkan aku melawan sulit


Ruang waktu melaju tak kenal henti

Tiap langkah yang kuambil belum jadi kunci

Pelukanmu yang teringat di hati

Jadi bara untuk diri

Berjuang bangkit melawan sepi


Bapak, dulu pernah kupanggil

Sudah pergi jauh meninggi

Kini aku berdiri mantapkan kaki

Dengan segala liku terpatri di hidup ini


Kadang kala ringkuk tubuhku pilu

Tapi ajarmu hadapi tuk jangan takut

Meski aku tak ada lagi untukmu

Tumbuhlan penuh makna, ujarmu

Karena kamu adalah cahaya mata untukku


Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Puisi: Ayo Menjadi Pahlawan Masa Kini