Sudah jelas kita tak pernah menjadi sedarah

Pun sekali masa

 

Ada yang asing

Saat menjejakkan kaki di tanahmu

Rindu pada engkau yang tak kukenal nama

Tak kukenal rupa tak bernobat sebagai bunda


Luluh rasa dalam tunduk muka

Di depan jari jemari agung yang tak tercium

Tak pernah

Pun sekelip mata

 

Pada separuh senja

Matahari perak masih bertengger di bahumu

Kaki kami bertemu beralas pasir kerikil dan batu-batu

Ombak menepi membawa kami kian dekat ke pelukmu


Berayun mendongah

Menggapai-gapai langit

Melepas jerit

Janjinya pun menjadi malu

Membatu ia dalam bisu

Dan menjinggalah matahari

 

Mandeh...

Matahari tenggelam dalam perutmu

Kami masih bermain berlari-lari

Tak hirau pekik teriak hari


Seolah memujuk hatinya untuk kembali

Padahal kita tak kenal rupa engkau

Pun tak bernobat bunda

Tapi aku telah menjemputnya

 

Mandeh...

Bulan telah bersujud di ujung kakimu

Setelah timbul tenggelam hingga sepenggal malam

Gelombang pun telah menyisir rambutmu tak terbilang petang

Tetaplah kau terbaring tak bergeming


Sumpah serapahilah kami yang bertukar hati

Tapi aku datang dengan tujuh keping sunting menjuntai di atas kening

Konon datang dengan bersaluang membawanya pulang

Menumpang sayang menjadi sibirantulang

Padahal kita takkan pernah menjadi sedarah, pun sekali masa

 

Mandeh...

Aku telah bersalin badan

Datang diam-diam, memendam, berjalan, tenggelam, lalu hilang

Setelah dia benar-benar pulang dengan janji yang tak lagi menjadi hutang


Baca juga Puisi: Rindu Kampungku