Ibu memasak isi otakku hingga mendidih

Dalam wajan aturan dan filsafat

Ia juga tak lupa memasukan garam-garam dalih, biar gurih katanya!

Semakin diaduk, isi otakku keluar berhamburan

Tapi ibu tidak sadar...


Setelah menurutnya matang, lantas dihidangkanlah dengan rupa yang pantas

Rupa yang pantas… Katanya

Namun belum mampir diperut, asin menusuk-nusuk lidahnya

Berapa banyak garam dalih yang kau taburi diotakku


Ketika kau lupa, jiwaku belum masuk dalam wajan aturanmu

Ibu, ibu, isi kepala saja belum cukup membeli hati pelanggan

Hidangan yang pantas belum mampu memikat lidah

Tapi ibu, mengapa hanya isi otak dan kepantasan rupa yang penting bagimu?


Padahal sekedar teori saja bisa kumasak sendiri di rumah,

Dengan ibu yang tidak tega mengatakan bodoh padaku

Yang hatinya tidak terbakar meski tak sengaja ku bakar

Yang ucapannya tidak menampar jiwa ketika ku salah


Bu, jika matang tidak akan ku minta kau didihkan isi otakku

Tapi karena memang mentah, ya mentah!

Namun, andai setelah kau masak isi otakku masih mentah.

Apakah harus ku ganti isi otakku dengan isi otakmu, bu?


Baca juga Janji Tebing kepada Hening