Seratus delapan puluh derajat di depanku

Matamu tajam ke gelas kopi yang tengah kau aduk

Ada rindu yang bercampur di kopi ini, warnanya pekat

Namun panasnya tak kunjung turun, katamu. 


Rupanya, dingin yang kau ajarkan tiga minggu lalu

Kini jadi serupa pemanis buatan di senyum mirismu. 

"Dik, rambutmu cantik. Banyak yang akan kagum di luar sana."

Kataku sambil memisahkan arang pada gelas kopiku. 


Di gelasmu yang tinggal seperempat, kau menjadi orang lain. 

Orang yang sedang meihat tubuhmu senyap, malam ini. 

"Akibat tertular sepi dan tertancap beling di jantung"

Katamu atau katanya. Entah, akupun bingung jadinya. 


Kopiku habis. Tinggal dedak dan arang di piring kecil. 

Dan kau masih mengotak-atik telepon seluler. 

"Delete Contact" katamu, kemudian menyeruput kopi 

Di gelasmu. Namun tanda tanya masih mengitari kepalaku

Mengapa kopimu tidak habis. Dan kau ngeloyor ke luar angkringan


Baca juga Malaikat Tanpa Sayap