Greaters, pola asuh pada anak itu memiliki peran penting pada tumbung kembang anak. Hal ini yang menjadi peran orang tua dalam menentukan pola asuhan secara tepat. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama anak-anak mereka. Hal ini dipertegas oleh Sutjipto (dalam Maria, 2010:32) yang menyatakan bahwa “Keluarga adalah lembaga pendidikan yang terutama dan utama”. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.

Sebagaimana yang juga diungkapkan oleh Kartini (dalam Yusniyah, 2008), keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Sementara menurut Chabib Thoha yang mengemukakan bahwa pola asuh orang tua adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua dalam mendidik anak sebagai perwujudan dari rasa tanggung jawab kepada anak.

Peran keluarga menjadi penting untuk mendidik anak, baik dalam tinjauan agama, tinjauan sosial kemasyarakatan maupun tinjauan individu. (1996:109)


Sumber : Shutterstock

Dari pengertian di atas orang tua memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan watak anak. Jika pendidikan keluarga yang diberikan dapat berlangsung dengan baik dan mampu menumbuhkan perkembangan sifat dan kepribadian anak menjadi manusia dewasa yang memiliki sikap positif terhadap agama, kepribadian yang kuat dan mandiri, serta intelektual yang berkembang secara optimal.

Agus Dariyo (2004:97) membagi bentuk pola asuh orang tua menjadi empat yaitu :

Pola asuh otoriter atau Parent Oriented

Ciri-ciri dari pola asuh ini, menekankan segala aturan orang tua harus ditaati oleh anak. Orang tua bertindak semena-mena, tanpa dapat dikontrol oleh anak. Anak harus menurut dan tidak boleh membantah terhadap apa yang diperintahkan oleh orang tua. Dalam hal ini, anak seolah-olah mejadi robot sehingga ia kurang inisiatif, merasa takut tidak percaya diri, pencemas, rendah diri, minder dalam pergaulan tetapi di sisi lain, anak bisa memberontak, nakal, atau melarikan diri dari kenyataan, misalnya dengan menggunakan narkoba.

Dari segi positifnya, anak yang dididik dalam pola asuh ini cenderung akan menjadi disiplin yakni mentaati peraturan. Akan tetapi bisa jadi, ia hanya mau menunjukkan kedisiplinan di hadapan orang tua, padahal dalam hatinya berbicara lain sehingga ketika di belakang orang tua, anak bersikap dan bertindak lain. Hal itu tujuannya semata hanya untuk menyenangkan hati orang tua. Jadi anakcenderung memiliki kedisiplinan dan kepatuhan yang semu.

Pola asuh permisif atau Children Centered

Sifat pola asuh ini, yakni segala aturan dan ketetapan keluarga di tangan anak. Apa yang dilakukan oleh anak diperbolehkan orang tua. Orang tua menuruti segala kemauan anak. Anak cenderung bertindak semena-mena tanpa pengawasan orang tua. Anak bebas melakukan apa saja yang diinginkan. Dari sisi negatif lain, anak kurang disiplin dengan aturan-aturan sosial yang berlaku. Bila anak mampu menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab , maka anak akan menjadi seorang yang mandiri, kreatif, inisiatif dan mampu mewujudkan aktualisasinya.

Pola asuh demokratis

Kedudukan antara orang tua dan anak sejajar. Suatu keputusan diambil bersama dengan mempertimbangkan kedua belah pihak. Anak diberi kebebasan yang bertanggung jawab, artinya apa yang dilakukan oleh anak tetap harus di bawah pengawasan orang tua dan dapat dipertanggung jawabkan secara moral. Orang tua dan anak tidak dapat berbuat semena-mena. Anak diberi kepercayaan dan dilatih untuk mempertanggung jawabkan segala tindakannya. Akibat positif dari pola asuh ini, anak akan menjadi seorang individu yang mempercayai orang lain, bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya, tidak munafik, jujur. Namun akibat negatif, anak akan cenderung merongrong kewibawaan otoritas orang tua, kalau segala sesuatu harus dipertimbangkan anak dan orang tua.

Pola asuh situsional

Pada pola asuh ini orang tua tidak menerapkan salah satu tipe pola asuh tertentu. Namun, kemungkinan orang tua menerapkan pola asuh secara fleksibel, luwes dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berlangsung saat itu.


Sumber : Shutterstock

Hasan Basri mendefinisikan bahwa belajar adalah proses perubahan di dalam diri seseorang, setelah belajar seseorang mengalami perubahan dalam dirinya seperti mengetahui, memahami, lebih terampil, dapat melakukan sesuatu dan sebagainya. (1994:92) Dari pengertian tentang definisi belajar secara luas tersebut, menurut Hendra Surya (2003:114), belajar mandiri adalah proses menggerakkan kekuatan atau dorongan dari dalam diri individu yang belajar untuk menggerakkan potensi dirinya mempelajari objek belajar tanpa ada tekanan atau pengaruh asing di luar dirinya. Dengan demikian belajar mandiri lebih mengarah pada pembentukan kemandirian dalam cara-cara belajar.

Dari pendapat kedua tokoh tersebut baik dari pengertian belajar maupun belajar mandiri memiliki pengertian bahwa ketika seorang siswa sudah melakukan proses belajar siswa tersebut akan mengalami perubahan dalam sikap, prilaku dalam menemukan potensi dirinya tanpa ada tekanan maupun pengaruh dari pihak dari luar dirinya.

Di dalam keluarga, orang tua yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk menjadi mandiri.Keluarga tidak hanya berfungsi terbatas sebagai penerus keturunan saja. Masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian sangat besar.

Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada siswa untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri, karena segala pengetahuan dan kecerdasan intelektual serta ketrampilan diperoleh pertama kali dari orang tua.

Pola asuh yang dikemukakan oleh agus Dariyo yaitu Pola Asuh Otoriter, Pola Asuh Permisif, Pola Asuh Demokratis, Pola Asuh Situsional. Dari pola-pola tersebut peneliti mencoba untuk melakukan penelitian pada anak dengan keluarga yang berbeda dan secara kenyataan dilapangan bahwa setiap anak mempunyai sifat serta perilaku yang berbeda-beda. Dengan demikian, peneliti menyebutkan jika hal itu akan mempengaruhi aktivitas belajar siswa di sekolah.

Nah Greaters, hal ini mengapa pola asuh secara tepat itu memiliki peran penting dalam bagian tumbuh kembang anak.

Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Membentuk Karakter Bangsa untuk Mewujudkan Pendidikan Berkualitas