Greaters, cemburu adalah bagian dari bukti kecintaan seorang istri terhadap suami. Nah, kali ini kita akan membahas tentang Greaters yang sudah menikah atau akan menikah. Islam memberikan Legitimasi dalam batas-batas yang telah digariskan, serta mengarahkanya agar kecemburuan tersebut dapat memberikan sesuatu yang indah. Rasulullah Bersabda: "Sungguh Allah telah menetapkan rasa cemburu kepada wanita". (sahabat Abdullah bin Mas'ud ). Jadi, cemburu adalah bagian dari karakter wanita, bahkan menjadi hal yang fitri. Bila di pelihara dengan baik, justru kecemburuan itu akan menjadi perangai yang terpuji. Karena itu, sebagai istri Shalehah harus mengatahui batas-batas mana kecemburuan di benarkan oleh Islam.

Aisyah pernah juga merasa cemburu, sementara Rasulullah membiarkanya, hingga ketika kecemburuan itu sudah melewati batas syar'i, maka Rasulullah menegurnya. Istri shalehah seharusnya mampu menghindarkan diri dari kecemburuan yang berlebihan. Selalu mengontrol rasa cemburu agar tidak lepas kendali. Tidak selayaknya pula seorang istri shalehah hanya karena perasaan cemburu kemudian membuka rahasia atau mengumpat orang lain, merendahkan, mencela, dan menyudutkanya.

Aisyah menerangkan; bahwa dia pernah menceritakan kepada Rasulullah tentang seseorang yang dia tidak menyukainya. Lantas Rasulullah bersabda; "Aku paling tidak suka menceritakan kekurangan orang lain, sementara aku punya sifat yang serba kurang ( HR.Abu Dawud, Tirmidzi,dan Ahmad dari Aisyah, dan termasuk hadist shaheh ).

Cemburu yang berlebihan hingga melukai hati orang lain, baik dalam bentuk cercaan, hinaan maupun sikap sinis, adalah sangat dilarang agama. Karena itu harus dihindari oleh setiap istri shalehah. Kecemburuan yang berlebihan terhadap suami, memancing kebencian mertua dan saudara-saudara iparnya, serta mempengaruhi suami untuk berbuat durhaka kepadanya. Seorang istri tidak selayaknya menuduh suami yang bukan-bukan hanya karena dilatar belakangi rasa cemburu, sementara dia sendiri tidak dapat mendatangkan saksi maupun bukti yang kongkrit. Cemburu yang seperti itu adalah cemburu buta, tentu saja dilarang agama.

Rasulullah bersabda; "Ada rasa cemburu yang dicintai Allah, dan ada cemburu yang dibenci Allah. Cemburu yang dicintai Allah, adalah cemburu dalam keraguan. Sedang cemburu yang dibenci Allah, adalah rasa cemburu yang tidak dalam keraguan.( HR.Tirmidzi dan Ahmad dari Jabir dari Anbarah ).Jadi..cemburu yang disertai bukti kongkrit dan saksi yang kuat, adalah dicintai Allah. Sedang cemburu buta sangat dimurkai Allah.

Dalam menatap batasan kecemburuan, seorng istri hendaklah bersikap jeli, serta pandai memanfaatkanya agar mampu menjaga diri dari rasa bimbang, tertekan, terhuncang, pedih, dan sakit hati karena banyak memikirkan suami. Jangan gegabah dan buruk sangka dalam memberikan tafsiran dari setiap gerak-gerik, pembicaraan,senyuman, maupun ketika suami berdiam. Jangan pula terlalu banyak menanyakan sesuatu dengan nada sinis. Misal; Kenapa terlambat pulang,kemana saja selama ini, kenapa cemberut,adakah orang lin selain diriku, dan sederet pertanyaan yang dapat mengungkit ketenangan hati suami.

Sikap seperti itu hendaknya di hindari, agar ketenangan jiwa, ketentraman hati, dan kebahagiaan dalam rumah tangga dapat di nikmati bersama. Dan jika terpaksa cemburu, arahkanlah kecemburuan itu sebagaiman mustinya. Tapi hendaklah sikap sabar dan mengendalikan perasaan, harus di kedepankan, agar tidak terjadi gejolak dalam rumah tangga. Bila hal ini bisa dilakukan, maka pahala yang telah di janjikan Rasulullah akan di peroleh.

Rosulullah bersabda; " Sungguh Allah telah menetapkan rasa cemburu kepada kaum wanita, dan di wajibkan berjihad kepda kaum pria. Barangsiapa di antara kaum wanita yang bersabar ( menahan diri dari rasa cemburu ) dengan semata-mata mencari pahala di sisi Allah, maka dia akan memperoleh pahala sama dengan pahala orang yang mati syahid.( ket; dalam kitab Akhkamun- Nisa', hal. 82 ). Untuk itu Greaters, bagi kamu yang sudah menikah dan menjadi seorang istri, raihlah pahala besar dengan sikap sabar. Semoga bermanfaat!

Baca juga Sajak Sederhana Setelah Reformasi