Greaters, memiliki seorang anak merupakan tanggung jawab yang besar untuk membesarkan dan mendidiknya. Dalam hal ini, sangat penting untuk memilih metode atau cara dalam mendidiknya. Mengingat, seorang anak yang terlahir ke dunia walaupun terlihat kecil dan lemah sesungguhnya mereka adalah manusia seutuhnya seperti manusia dewasa. Tuhan telah menganugerahkan anak jiwa yang utuh dengan kodratnya masing - masing.

Mereka terlahir tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya buruk tetapi setiap anak memiliki potensi untuk menjadi baik dan buruk sama besar, tergantung pada didikan yang mereka dapatkan kelak. Mau jadi seperti apakah anak - anak ini nantinya, menjadi berkat bagi masyarakat atau sebaliknya. Dalam hal ini, pendidikan yang berperan membawa anak menjadi insan kamil dan memberikan berkat bagi lingkungannya.


Sumber : Nuking the Climate

Bapak pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara memiliki konsep tentang pendidikan yang sungguh luar biasa tetapi telah jarang digunakan dewasa ini, bahkan mungkin hampir tidak ada yang memakainya lagi. Lain halnya dengan kutipan-kutipan dan pernyataannya yang dijadikan sebagai motto atau kata mutiara. Salah satu nya adalah “Anak-anak hidup dan tumbuh dengan kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat”.

Seandainya kita renungkan lebih dalam, masih adakah pendidik yang menerapkan prinsip itu saat ini? Kuatnya anggapan bahwa anak adalah kertas kosong atau lilin mentah yang harus diisi, ditulis, hingga dibentuk sesuai dengan keinginan dari manusia dewasa, menjadikan proses pendidikan adalah proses - proses teknis yang hampir tidak memperhatikan kodrat anak sebagai pribadi yang utuh. Seolah - olah pendidikan adalah proses mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi yang siap dipasarkan dan digunakan oleh masyarakat.

Pendidikan seharusnya tidak terkukung di dalam gedung-gedung dan ruang-ruang kelas karena pada dasarnya setiap anak terlahir dengan kodrat sebagai pembelajar. Jauh sebelum anak menempuh dunia yang dinamakan sekolah, anak telah belajar hampir tanpa perlu paksaan karena yang mereka butuhkan adalah dukungan dan pemberi semangat.

Bayi dari hanya terlentang, belajar tengkurap, lalu duduk dan dengan penuh semangat belajar berjalan. Mereka juga belajar berbicara dan mengenal bahasa yang sama sekali baru, bahkan anak akan mampu menangkap berbagai bahasa dengan adanya dukungan dari lingkungan. Benar adanya jika seorang anak akan dapat menguasai beberapa bahasa dengan baik tanpa buku teks pelajaran ataupun target untuk mendapatkan nilai tertentu maupun lulus ujian.

Belajar adalah sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan bagi seorang anak. Tetapi semua kesenangan ini seolah meredup seiring dengan proses pendidikan yang harus mereka tempuh bernama sekolah. Tidak ada lagi mata yang berbinar dengan rasa penasaran dan keingintahuan pada lingkungan sekitarnya serta ilmu pengetahuan.

Mengapa demikian?

Keharusan duduk diam dan memperhatikan apa yang guru sampaikan di kelas, kewajiban menjawab soal sesuai yang tertulis di buku pelajaran, penghargaan terhadap kecerdasan seorang anak lewat nilai - nilai sempurna pada suatu mata pelajaran, tidak adanya kebebasan berekspresi, kesamaan perlakuan pada anak dengan bakat dan minat yang berbeda - beda membuat anak mulai kehilangan kesenangannya pada belajar.


Sumber : Sanggar Anak Alam

Salah satu filosofi dari Ki Hajar Dewantara adalah bahwa pengajaran seharusnya ditujukan ke arah kecerdasan siswa, selalu bertambahnya ilmu yang berfaedah, membiasakan anak mencari pengetahuan sendiri, mempergunakan pengetahuannya untuk kepentingan umum. Betapa banyaknya seseorang dengan status pendidikan tinggi tetapi memiliki karakter egois, impulsif dan materialistik.

Anak dengan kesenangan pada matematika, anak dengan minat pada bahasa, anak yang berbakat pada olahraga, anak yang sangat suka pada dunia seni mendapatkan perlakuan yang sama saat mereka berada di sekolah dasar. Ukuran pintar adalah menjadi juara kelas dengan mempelajari semua yang telah disiapkan oleh sekolah.

Diperlukan iman yang kuat bahwa anak merupakan pribadi yang utuh sama seperti manusia dewasa dengan kodrat lahir sebagai seorang pembelajar, orang dewasa seharusnya berfungsi sebagai fasilitator bagi anak. Anak adalah pemeran utamanya, anaklah yang harus aktif dalam menggali ilmu pengetahuan yang disediakan oleh alam sehingga hasrat belajar mereka terus berkobar.

Seperti apakah tugas guru dan orang tua sebagai fasilitator?


Sumber : Detik Health

Orang tua dan guru harus memelihara hasrat belajar pada anak, membantu anak membedakan antara yang benar dan yang salah, menginspirasi anak serta menjadi pemantik untuk mengeluarkan hal istimewa dalam diri anak, membantu anak menentukan pilihan hidupnya, dalam hal ini membantu dan bukan memutuskan.

Seperti hal nya pencernaan yang harus diisi dengan makanan bergizi untuk tumbuh kembang anak. Begitu juga dengan benak anak yang wajib diberi makanan bergizi agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Makanan bergizi bagi benak anak adalah pengetahuan dan ide - ide hidup dan bukan fakta - fakta kering tentang sesuatu hal.

Ide - ide ini dapaf diperoleh dari buku - buku hasil karya para pemikir hebat. Ide hidup dan hebat ini dapat memberi inspirasi bagi anak, anak akan dapat mencerna dan mengambil saripatinya. Tidak perlu ceramah - ceramah membosankan tentang kebenaran dan kejujuran.

Baca juga 5 Makanan yang Membuat Anak Menjadi Cerdas

Dengan membaca kisah dan cerita dalam sebuah buku atau dengan mendogeng, anak akan dapat menemukan nilai - nilai kebaikan dan kebenaran di dalam kisah - kisah tersebut. Ibarat makanan, anak dapat mengunyahnya sendiri. Dengan demikian hasrat belajar pada anak akan terus terpantik dan terpelihara.


Sumber : Bukalapak

Sebuah buku berbahasa indonesia di era tahun 50an yang menceritakan tentang erosi adalah salah satu contoh buku yang dapat memantik daya imajinasi dan ide pada seorang anak. Alih - alih menjelaskan erosi itu apa dan bagaimana terjadinya peristiwa erosi seperti pada buku - buku teks pelajaran sekolah, penulis memulai tulisannya dengan menceritakan kebiasaan membuang ‘emas’ yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Kemudian menceritakan hal lainnya tentang tanah dan pertanian sehingga apakah erosi dan apa penyebabnya dapat dicerna dan disimpulkan sendiri oleh anak - anak dengan tambahan cerita inspiratif di dalamnya.


Sumber : Bukalapak

Seandainya yang anak peroleh tidak tepat sama dengan kalimat pada pengertian erosi, satu hal yang pasti anak paham dengan baik apakah peristiwa erosi itu dan akan tetap mengingatnya tanpa perlu menghafal. Bisa juga anak akan terpantik idenya tentang apa yang bisa dan harus dia dilakukan untuk menghentikan peristiwa erosi. Belajar adalah kegiatan mengeluarkan hal – hal hebat dan istimewa dari dalam diri seorang anak.

Nah Greaters, hal inilah mengapa sangat penting untuk dipahami secara jelas demi perkembangan anak nantinya.


Referensi :
1. Ellen Kristi. 2016. Cinta Yang Berpikir. Semarang : Ein Institute. 263.
2. Sumber gambar utama : Pixabay.com

Penulis : Dian Tri