Greaters, sudah menjadi hal yang lumrah bahwa wanita dengan tingkat pendidikan tinggi akan terjun ke dunia kerja. Demi menjadi wanita yang mandiri, bermanfaat dan lebih dihargai. Di saat dia dapat hidup mandiri tanpa ketergantungan pada orang lain, hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri seorang wanita. Ada juga keadaan bahwa para wanita yang bekerja tidak disebabkan oleh kebutuhan finansial tetapi lebih kepada perasaan berguna dan ingin dihargai.

Banyak sekolah dan universitas yang berfungsi mengasah keahlian bagi para wanita. Menjadi sekretaris, manager, pramugari, entrepreneur dan masih banyak lainnya. Akan tetapi, masih jarang sekolah maupun universitas yang mengajarkan dan memberikan keahlian bagi para wanita untuk menjadi ibu.

Menjadi seorang ibu merupakan kodrat dari Tuhan untuk perempuan yang memiliki berbagai macam tugas seperti merawat, mendidik, membesarkan, hingga membentuk pribadi anak, dan melahirkan generasi masa depan untuk menjadi berkat bagi masyarakat. Ibu diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk mendidik ciptaan-Nya yang istimewa. Tugas yang sangat penting dan demikian berat ini sering kali dianggap biasa saja karena tidak perlu memiliki keahlian serta pengetahuan tertentu.

Hal-hal seperti ketidaksiapan mental, minimnya pengetahuan dasar tentang psikologi anak, dan kurangnya pengetahuan dalam mendidik anak, sering kali berdampak pada perlakuan ke anak yang tidak seharusnya. Perundungan pada diri anak seperti berteriak, membentak, mencubit, hingga memukul bisa terjadi karena ketidaktahuan tentang cara mendidik. Selain itu, mendidik anak berdasarkan pengalaman dari orang tua terdahulu juga sering berakhir dengan stress berkepanjangan.


Sumber : Kumparan

Ditambah dengan rutinitas sebagai ibu yang dipenuhi oleh berbagai aktivitas rumah tangga yang menguras tenaga dan waktu menyebabkan tugas mendidik anak menjadi urutan kedua. Untuk ibu bekerja sering terjadi tugas mendidik dialihkan pada orang lain seperti pengasuh, nenek, atau sekolah.

Atmosfer di dalam keluarga adalah tempat anak bernafas. Segala situasi, kebiasaan, karakter dari orang tua terutama ibu sebagai sosok yang paling dekat dengan anak akan disimpan oleh alam bawah sadar seorang anak dan besar kemungkinan akan memengaruhi kebiasaan dan karakter anak kelak setelah dewasa. Maka sangat penting bagi seorang ibu untuk terus tumbuh bersama anak - anak mereka.

Manusia hidup dengan kebiasaan yang dilakukan secara simultan yang telah terbentuk selama bertahun - tahun. Salah satu tugas penting seorang ibu dalam mendidik putra-putri mereka adalah melatih kebiasaan baik yang akan membentuk karakter dari seorang anak dan akan bermanfaat untuk kehidupannya ketika dewasa nanti. Ketika anak telah terbiasa melakukan hal - hal baik maka kehidupan akan berjalan lebih tenang dan mudah, frekuensi terjadinya gesekan antara anak dan orang tua ataupun dengan lingkungannya lebih kecil.

Beberapa kebiasaan yang harus dibentuk oleh orang tua (Ibu) terhadap anak - anak antara lain kebiasaan untuk patuh dengan otoritas dan tata tertib, kebiasaan untuk konsentrasi, kebiasaan disiplin, kebiasaan melakukan sesuatu dengan sungguh - sungguh dan sempurna. Kebiasaan membaca, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, kebiasaan jujur, kebiasaan berbicara dan mengemukakan pendapat (bercerita) dan kebiasaan baik lainnya yang dapat dipilih oleh Ibu.

Tidak perlu terburu - buru untuk menerapkan semuanya dalam sekali waktu, tidak perlu juga menjadi kaku dan tegang dalam melatihkan kebiasaan baik bagi seorang anak. Semua dapat dilakukan perlahan satu demi satu dengan aktivitas yang menginspirasi dan menyenangkan bagi seorang anak. Pengetahuan tentang hal ini sangat diperlukan oleh seorang Ibu sebagai tempat belajar dan sekolah pertama bagi anak - anak titipan Tuhan.


Sumber : Grid ID

Seni mengasuh anak sering berayun antara menjadikan anak sebagai subjek yang harus dipenuhi segala keinginannya dan menjadikan anak sebagai objek yang harus patuh terhadap setiap perintah orang tuanya. Sebagai seorang ibu yang memegang otoritas atas diri anak sebaiknya dapat menjalankan fungsi secara seimbang, tahu kapan anak harus patuh dan tahu pula kapan anak harus diberi kebebasan.

Baca juga Pahami Perasaan Anak karena Mereka Memiliki Pribadi yang Utuh

Setiap anak memiliki naluri untuk patuh kepada orang tua mereka tetapi hal ini tidak dapat dijadikan alasan bahwa Ibu dapat berbuat apapun sesuai keinginannya terhadap diri anak maupun menjadi otoriter, karena ada hak dan jiwa spiritual dalam diri anak yang harus dihargai dan dibiarkan terus bertumbuh.

Dalam ilmu psikologi anak, usia awal kehidupan anak masih dipenuhi oleh sifat egosentris yang seharusnya terus berkurang seiring dengan bertambahnya usia dan perkembangan otak depan (otak yang belum aktif di awal kehidupan manusia). Tetapi sering juga dijumpai orang dewasa yang tidak dapat mengendalikan diri dan emosinya seolah hanya otak reptilnya (otak yang telah aktif dari lahir) yang menguasai seluruh pikirannya.

Ibu memiliki peran untuk melatih kemampuan anak dalam mengendalikan emosi mereka, juga membantu anak untuk segera menguasai diri saat otak reptil mereka yang aktif dengan melatihnya agar segera menggunakan nalar dan pengetahuannya. Memberikan kesempatan pada anak untuk mengenali dan merasakan setiap emosi yang hadir adalah cara yang dapat dilakukan oleh ibu. Alih-alih segera menghibur saat anak sedih atau menangis, membentak dan memarahi saat anak kesal dan marah lebih baik jika ibu mengamini dan menghargai perasaannya di saat itu.


Sumber : Debusana Blog

Setelah ledakan emosi anak reda barulah kita ajak bicara. Diperlukan juga kematangan emosi dan kesiapan mental dari sang ibu. Hal ini penting karena anak yang tidak diberikan kesempatan mengenali dan merasakan emosi dalam diri mereka akan segera melupakan rasa dalam dirinya, menjadi pribadi yang tertutup dan meledak - ledak, pribadi yang selalu tampak gembira dan bahagia di depan orang tua padahal rapuh dan mudah terbawa kepada hal - hal buruk untuk menutupi kerapuhan dan hasrat memenuhi kesenangan.

Jadi Greaters yang merupakan para ibu dan calon ibu, profesi ini sangat penting dan tidak mudah, diperlukan pengetahuan dan intektualitas yang melebihi profesi lain bagi seorang perempuan karena siap atau tidak, kodrat perempuan sebagai ibu adalah pasti. Lebih baik menyiapkan diri sebagai tempat belajar dan sekolah pertama anak, karena sesungguhnya anak adalah juga titipan masyarakat, bangsa dan negara.


Referensi :
1. Ellen Kristi. 2016. Cinta Yang Berpikir. Semarang : Ein Institute. 263.
2. Sumber gambar utama : Klik Dokter

Penulis : Dian Tri