Greaters, apakah kamu pernah mendengar seni tenun ikat? Salah satu yang terkenal adalah tenun ikat asal Sumba. Kali ini kita akan membahas salah satu budaya Indonesia yang berasal dari Sumba dan wajib dilestarikan. Tenun ikat merupakan salah satu seni dalam membuat kain. Disebut tenun ikat, karena cara pembuatan motif atau warna dilakukan dengan cara mengikat benang. Pada penenunan cara lama, benang tenun ikat dibuat dari kapas. Kapas dari pohon Jacaranda yang berbentuk gumpalan-gumpalan kapas ini dipilin hingga tipis dan menjadi benang yang kuat.

Untuk menjadi benang, digunakan alan pilin yang bisa berputar. Setelah benang jadi yang mencukupi untuk satu buah kain, benang disusun sepanjang dan selebar kain yang diinginkan. Biasanya lebarnya tidak lebih dari 80-90 cm saja sesuai dengan lebar bentangan tangan pada saat menenun. Itu sebabnya, pada kain tenun tangan, lebar kain hanya kecil saja. Setelah benang disusun berjajar, mulai dibuat ikatan menggunakan tali rafia. Dahulu ikatan ini menggunakan daun yang kedap air. Ikatan dibuat sesuai dengan pola yang diinginkan. Setelah diikat, kain dicelup pada proses pewarnaan.

Pembuatan tenun ikat-hasil pengamatan proses tenun ikat Sumba.

Semakin banyak warna pada satu kain, semakin kecil motif yang dibuat maka semakin rumit kain tersebut. Pewarnaan kain juga membutuhkan pemikiran terbalik seperti halnya batik. Misalnya saja, satu kain tenun ikat akan diberi empat warna putih, merah, biru dan hitam. Maka pewarnaan pertama yang dilakukan adalah warna yang paling muda, yaitu warna merah. Pada proses pewarnaan warna merah, motif yang akan berwarna putih dan biru ditutup dengan cara mengikat motif tersebut dengan tali rafia. Fungsinya agar bidang ini tidak terkena warna merah sehingga tetap bewarna putih seperti bahan dasar kapas tersebut.

Pewarnaan alam merah biasanya juga dibuat dari akar pohon mengkudu. Dibutuhkan lima kali mencelup dan mengeringkan kain agar dicapai warna merah yang sempurna. Setiap pengeringan membutuhkan waktu satu minggu. Konon, warna merah paling baik terdapat di Sumba Timur dan harus dikerjakan di Sumba Timur juga. Apabila dikerjakan tempat lain, warnanya berubah, tidak sebaik di tempat aslinya. Setelah pewarnaan merah selesai, dilakukan pewarnaan warna biru. Untuk ini maka motif yang akan bewarna biru, dibuka ikatannya satu persatu. Sedangkan motif yang akan bewarna putih, tetapi dibiarkan tertutup.

Warna biru alam didapat dari daun tanaman Indigo. Sebelum mencelup warna biru, maka bagian motif yang akan bewarna putih dan merah harus ditutup lagi dengan mengikatkan tali rafia sehingga bagian ini tidak terkena warna biru. Bagian yang putih belum terkena warna maka akan berubah menjadi motif berwarna biru. Sedangkan motif yang ingin diberi warna coklat, merupakan perpaduan dari warna merah dan biru. Sehingga untuk bagian motif coklat ini pada pencelupan warna biru merupakan warna merah yang sudah dibuka pengikat tali rafianya. Ini yang disebut dengan pewarnaan dengan cara pemikiran terbalik.

Dilakukan pencelupan dan pengeringan seperti halnya pewarnaan warna merah. Sama seperti halnya warna sebelumnya, dibutuhkan beberapa kali pencelupan agar didapat warna biru sempurna. Pencampuran warna merah dan biru akan menghasilkan warna coklat tua atau hitam. Semakin muda warna merah dan biru semakin kain berwarna coklat muda. Semakin pekat warna merah dan biru semakin tua warna coklatnya. Bahkan pewarnaan berulang yang pekat bisa mendapatkan warna hitam.

Untuk motif, motif binatang dan orang lebih rumit daripada motif bunga atau geometris. Mengapa? karena motif geometris adalah motif yang berulang yang lebih mudah penghitungan jumlah benang yang diikat dan panjang benang yang diikat dari setiap motif. Sedangkan motif binatang, lebih sedikit pengulangannya. Semakin kecil dan halus motif, makan semakin rumit proses pengikatan, sekaligus membutuhkan waktu yang lebih lama. Motif binatang dan manusia juga membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi. Kesalahan lebih mudah terlihat pada motif ini. Bayangkan saja apabila lupa memberi warna pada mata binatang, atau salah memberi warnan pada mata manusia, makan kesalahan akan langsung terlihat jelas.

Biasanya motif motif rumah, binatang dan orang di dalam kain Sumba memiliki cerita. Misalnya cerita tentang perkawinan, upacara adat, adu balap kuda, kematian dst. Motif juga biasanya mengambil inspirasi dari alam, kebanyakan binatang, seperti kuda, rusa, udang, ayam, dan masih banyak lainnya. Setelah pewarnaan selesai, kain siap ditenun dengan menggunakan alat tenun bukan mesin yang digerakkan dengan tangan. Biasanya, menenun dilakukan di beranda rumah-rumah tradisional. 

Untuk motif-motif yang rumit dan banyak warna ini dibutuhkan waktu delapan bulan untuk membuatnya. Di Sumba Timur ada motif yang sangat khas, disebut sebagai motif Kaliuda. Di Sumba Barat, desa Kodi adalah desa yang paling produktif memproduksi tenun ikat Sumba. Tetapi sulit mendapatkan kain ikat Sumba berkualitas langsung dari penenun. Umumnya kain kain berkualitas ini sudah jatuh ke tangan pedagang. 

Baca juga Pembahasan Singkat Statistika Mudah dan Cepat, Matematika Kelas 12