Greaters, ada penasaran yang bersarang di hati perihal “penyakit hati”. Hal ini bukan tentang organ tubuh, tapi fungsinya secara spiritual. Mungkin satu, dua, atau lebih pernah bertemu orang yang habis-habisan dengan cara apapun mencoba “melawan”, meski yang terjadi antara dia dan kamu bukanlah perkara besar. Setiap orang pun tak lepas dari “penyakit hati" ini. Padahal, penyakit hati merupakan sesuatu yang berbahaya jika dipelihara di dalam tubuh.

Hati punya tiga kategori yang menjadi pembedanya. Berikut jenis hati berdasarkan kategori spiritualnya, menurut islam:

  1. Qalbun Mayyit
    Hati seperti mayat, baik buruk sesuatu ditentukan oleh hawa nafsu seseorang. Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-enam, Allah SWT berfirman: Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
  2. Qalbun Mariidl
    Dalam surah Al-Baqarah ayat ke-sepuluh disebutkan jika, Di dalam hati mereka (orang-orang munafik), ada penyakit, maka Allah tambahkan penyakit ke dalam hati mereka ada azab yang pedih disebabkan kedustaan mereka.
  3. Qalbun Salim
    Hati yang selamat seperti dijelaskan pada surah As-Syu’araa ayat ke-delapan puluh delapan sampai delapan puluh sembilan yang berbunyi: (Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Lalu, bagaimana solusi mengobati penyakit hati?

Mujahadah adalah solusi dari hal-hal tersebut. Mujahadah dapat diartikan sebagai memerangi nafsu amarah dan memberi beban kepadanya untuk melakukan sesuatu yang berat baginya yang sesuai aturan agama. Apabila kita terkena “penyakit hati” seperti yang telah dijelaskan di atas, maka bolehlah kita jujur kepada diri sendiri, berdamai dengan orang yang sepantasnya, dan menjauhi iri hati. Di dunia ini kamu tidak akan lepas dari yang namanya musuh. Pasti ada saja orang-orang yang tidak menyukaimu meski dari awal berniat dan berbuat baik, memang seperti itulah dunia.

Coba renungkan hal berikut, pernahkah kamu merasa dan mengalami suatu hal, lalu ternyata orang-orang yang tidak tahu berkomentar dengan tiada dasar atau pedoman. Bagi beberapa orang, hal tersebut cukup menyakitkan, tapi, dengan konsisten berbuat baik serta berkarya, jangan terlalu khawatir tentang itu. Percaya saja jika keadaan akan membaik. Terdengar berat memang, pun menjalaninya tak akan seindah teori. Namun, jika kamu melakukannya karena Allah SWT, maka ada “kekuatan” khusus yang membuat kita semua berada di “jalan yang lurus”. Orang boleh memaki, silakan juga berkomentar pedas. Namun jangan lupa, kamu harus tetap “berjalan”. Itu penting. 

Jika terjadi suatu masalah, maka berusahalah saling mengoreksi diri, dan rekan-rekan yang terlibat hendaknya berinisiatif melakukan mediasi atau apapun namanya. Hal itu telah dijelaskan dalam surah Al-Hujurat ayat ke-sembilan: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya”. Dengan pikiran positif dan saling pengertian, kita harus terbiasa mengutamakan dialog daripada merasa benar sendiri. Bukankah seperti itu kehidupan sosial? Bukankah percuma jika kita memperjuangkan sesuatu tapi tak memperbaiki diri?

Oleh karena itu Greaters, kamu bisa terus berpikir positif dan melakukan kebaikan tanpa harus mempedulikan omongan negatif sekitar. Semoga kita semua diberi kemudahan dan hidayah oleh Allah subhanahu wa ta’alaa.

Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Apakah Sastra dan Tanggung Jawab Moral saling Berkaitan?