Greaters, kali ini kita akan membahas sebuah konflik yang sering terjadi pada masyarakat. Nah, untuk memulai pembahasannya, kita mulai dari definisi manusia. Manusia adalah komponen individu yang membentuk sebuah kelompok besar yang kemudian disebut sebagai masyarakat. Ketidakmampuan manusia dalam memenuhi kebutuhan individu secara mandiri, menimbulkan kecenderungan untuk bergantung kepada individu lain.

Ketergantungan antar individu membawa manusia pada sebuah hubungan sosial yang di dalamnya terdapat rasa saling membutuhkan. Kepercayaan, tanggung jawab, kejujuran, dan rasa memiliki merupakan komponen yang harus dimiliki oleh masing-masing anggota masyarakat. Kepentingan yang sifatnya dapat merusak hubungan dalam masyarakat harus diredam agar tidak menimbulkan konflik sosial dalam masarakat, salah satu caranya adalah menjaga integrasi sosial.

Integrasi sosial berasal dari bahasa latin integrare yang memiliki arti memberi tempat dalam suatu keseluruhan. Adapun definisi lain dari integrasi yaitu, pembauran hingga menjadi kesatuan yang bulat dan utuh. Istilah pembauran di sini memiliki arti masuk ke dalam, menyesuaikan, menyatu, atau melebur sehingga menjadi satu-kesatuan yang utuh.

Proses integrasi sendiri melalui beberapa tahapan di antaranya, integasi interpersonal yaitu taraf ketergantungan antar pribadi, integrasi sosial yaitu taraf ketergantungan fungsional dari unsur-unsur sosial ekonomi dan integrasi budaya yaitu ketergantungan fungsional dari unsur-unsur kebudayaan. Ketidakmampuan anggota masyarakat dalam menjaga integrasi sosial membawa masyarakat tersebut pada masalah konflik sosial.


Sumber : Shutterstock

Hal ini seperti yang terjadi di Mimika pada 2018. Sepanjang 2018 telah terjadi konflik sosial yang menyebabkan 12 orang harus kehilangan nyawa dalam konflik berdarah. Konflik berdarah ini terjadi di distrik Kwamki Narama. Konflik dipicu aksi penganiayaan terhadap Dedi Kiwak hingga meninggal dunia pada 12 November 2017 check point 28. Akibat penganiayaan itu, dua kelompok di Kwamki Narama terlibat bentrok.

Kecenderungan anggota kelompok untuk membalaskan dendam terhadap anggotanya yang telah dilukai atau bahkan dibunuh oleh kelompok lain, membawa keinginan untuk melakukan tindakan semena-mena di luar hukum yang telah tertulis. Hal ini seperti apa yang dikatakan oleh Soerjono Soekanto. Beliau berpendapat bahwa konflik merupakan suatu proses sosial di mana orang-perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi tujuan dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai dengan ancaman atau kekerasan.

Konflik yang berlarut-larut akan membawa perpecahan dalam masyarakat yang terkotak-kotak dalam sebuah kelompok yang kita sebut sebagai disintegrasi sosial. Disintegrasi sosial merupakan preses pudarnya norma dan nilai dalam masyarakat yang disebabkan perubahan yang terjadi pada kelompok atau lemabaga dalam masyarakat.


Sumber : Shutterstock

Konflik sosial yang telah mengarah pada disintegrasi terjadi di Mimika, distrik Kwamki Narama jika tidak diselesaikan oleh lembaga yang dipercayai atau dianut oleh kedua kelompok yang bertikai, akan mendapat jalan sulit dalam berdamai. Salah satunya dengan menggunakan hukum adat yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Hukum diperlukan sebagai titah kedaulatan. Hukum adat dipandang sah apabila didukung oleh kedaulatan, karena kedaulatan memiliki wewenang tak terhingga untuk membuat hukum.

Seperti yang kita ketahui pada masyarakat Indonesia pada umumnya masih memegang teguh agama dan adat mereka, sehingga jalan penyelesaian konflik yang efektif selain menggunakan hukum Negara adalah dengan menggunakan prosesi adat setempat. Penyelesain konflik sosial bisa dikatakan sebagai bentuk reintegrasi sosial artinya sebuah proses penyatuan kembali kelompok-kelompok masyarakat yang bertikai untuk menyatu kembali.

Menjaga keutuhan masyarakat dari proses integrasi adalah tugas kita bersama. Pembuatan norma dan pengutan nilai kemanusia merupakan sebuah langkah awal dalam mengelola keutuhan kehidupan bermasyarakat. Konflik kekerasan dapat dihindari dengan cara membicarakanya dengan bantuan pihak ke tiga. Selama ada keterbukaan di masing-masing individu dalam menyikapi masalah konflik tidak akan menimbulkan korban jiwa.

Nah Greaters, semua balik lagi ke diri masing-masing untuk memahami dan menerima perbedaan dalam bersosialisasi.

Baca juga Mengenal Konsep Calistung Secara Baik dan Benar