Greaters, mari kita sejenak membahas tentang kehidupan manusia. Manusia, Tuhan ciptakan disertai dengan kelebihannya dalam berpikir. Kemampuannya dalam berpikir itu membedakan antara dirinya dengan makhluk lainnya yang Tuhan ciptakan. Mustahil Dia menciptakan segala sesuatu tanpa tujuan. Sekecil dan sebesar apapun yang tampak, terbayangkan atau tidak, gaib ataupun nyata, pasti ada hikmah di balik penciptaannya. Manusia yang berpikir, pasti mendongkrak tulang dan menyetir hatinya untuk menghayati apa dan ke mana arah tujuan hidupnya.

Fokus dalam perjalanan supaya tidak berlawanan arah dan tidak bertabrakan dengan petunjuk kebenaran. Manusia yang berpikir, dalam segala aspek kehidupannya pasti melandaskan diri pada nilai-nilai kebenaran, bukan pada nilai-nilai nisbi yang bertentangan dan berbelok dari jalan dan rambu-rambu-Nya. Hasil penghayatan itulah yang kemudian menjadikan manusia dapat meraih derajat mulia di hadapan Sang Maha Pencipta. Namun, kesemuanya itu tidak hanya cukup sampai pada tingkat penghayatan saja, melainkan harus sampai pada tingkat pengamalan (implementasi).

Pengamalan dari hasil penghayatan itulah yang kemudian akan menjadi tantangan dan penentuan keselamatan perjalanan hidupnya. Dapat dianalogikan seperti seorang supir yang mengendarai mobilnya. Ia berkendara dengan tujuan perjalanan yang sudah ia ketahui tempatnya di mana. Akan tetapi, ia berkendara dan mengambil arah jalan yang tidak pasti sampainya. Ia mengambil arah jalan yang berkelok-kelok, naik-turun, rusak dan berlubang. Ia mengikuti arah jalan tanpa memperhatikan peta dan aturan lalu lintas. Hingga ia berani melanggar rambu dengan menerobos lampu merah.

Maka, mustahil ia akan sampai pada tujuan, sehingga yang akan terjadi pada dirinya hanyalah kecelakaan, bahkan kematian. Begitu pun dengan tujuan hidup manusia, tanpa adanya kemampuan berpikir untuk memahami, mengamalkan, dan menaati petunjuk Tuhan, mustahil ia akan bisa sampai dan selamat dalam perjalanan hidupnya. Banyak pertanyaan yang akan muncul dan membuat bingung jika kita tidak berusaha untuk mengetahui dan memahami petunjuk kehidupan yang benar dari-Nya.

Pertanyaan itu di antaranya, “Mengapa kita diciptakan?”, siapa yang menciptakan kita?, apa tujuan kita diciptakan?, “apa pedoman perjalanan kehidupan kita?”, “ke mana kehidupan kita akan berakhir?”, “siapa contoh teladan yang dapat kita jadikan sebagai tuntunan?”, “dan apa yang harus kita persiapkan agar meraih selamat di perjalannya?” Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan hasil dari kontemplasi dan olah pikir manusia yang harus diketahui dan dipahami jawabannya, agar perjalanan kehidupan menjadi lebih terarah, taat, dan selamat.

“Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al-Baqarah: 256). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa jalan kebenaran itu telah jelas, begitu juga jalan kesesatan, telah jelas. Oleh sebab itu, persiapkanlah. Jadikan seluruh petunjuk-Nya sebagai jawaban, yaitu petunjuk dari Sang Maha Pencipta dalam Al-Quran, dan Sang Nabi dalam Sunnahnya. Bacalah dan pahami ayat-Nya, hayati, serta amalkan seluruh petunjuk dan tuntunan keduanya dalam kehidupan. Maka, niscaya akan kita raih keselamatan dunia dan keselamatan akhirat.

Manusia pilihan Tuhan telah membuktikan kebenaran-Nya tersebut. Tuhan menjadikan ia sebagai teladan dan tertanda paling mulia di antara manusia seluruhnya. Dialah sang utusan, Nabi Muhammad SAW. Ia menjadikan ayat-ayat-Nya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupnya. Itulah jalan kebenaran tersebut, Al-Quran Al-Karim. Semua solusi, jawaban, dan segala pertanyaan kehidupan ada di dalamnya.

Namun, sedikit sekali di antara manusia yang memiliki kekuatan iman untuk dapat menaati seluruh aturan Tuhannya. Sangat sedikit pula dari manusia yang tetap mengingat-Nya saat mereka di hadapkan pada ujian kesuksesan. Kebanyakan manusia lalai, mereka terlalu sibuk dengan urusan dunianya, hingga mereka dipenuhi oleh banyak ketergesaan. Saat Tuhan uji mereka dengan kegagalan dan kesakitan hati, mereka kehilangan arah, mereka tak tahu kepada siapa dan ke mana harus mengadu dan melangkah.

Manusia yang berpikir, pasti memanfaatkan dan menjadikan segala kelebihan dan potensi dirinya untuk lebih bersungguh-sungguh dalam menghayati dan memahami jalan-jalan kehidupan yang benar, serta lebih berhati-hati pula dalam melangkah dan beribadah. Sebab, tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah hanya untuk taat beribadah kepada-Nya, dan agar mereka yakin bahwa akhirat adalah tujuan akhir dari kehidupannya.

Jika benar kita pun yakin dan bersungguh-sungguh beriman pada seluruh petunjuk-Nya, maka, sudah pahamkah, “mengapa kita diciptakan?”, “apa tujuan kita diciptakan?”, “siapa yang menciptakan kita?”, “apa pedoman perjalanan kehidupan kita?”, “siapa contoh terbaik yang dapat kita jadikan panutan?, “apa yang harus kita persiapkan agar selamat di perjalanannya?”, dan “ke mana kehidupan kita akan berakhir?”. Maha Suci Allah Yang Maha Benar Lagi Maha Penolong. Semoga Dia memberikan pertolongan-Nya kepada kita semua agar senantiasa taat dan istikamah berada di jalan-Nya yang benar. Wallāhul musta’ān.

Baca juga Tips Menjadi Guru Kreatif dengan Memanfaatkan Media Pembelajaran