Semula tak pernah aku bayangkan akan menjadi begini. Sebuah keputusan besar telah kuambil. Aku laksana gunung es yang membeku, itu kata orang. Namun aku memiliki sebuah alasan, yaitu cita-cita terakhir hidupku. “Assalamu’alaikum…,” Suara bapak-bapak itu mengusik keasyikanku, kala menimang-nimang bayi lelaki mungil di tanganku. Ternyata teman-teman suamiku bekerja, dengan cepat mereka mendengar kabar itu.

“Wa’alaikumsalaam,” jawabku. Pak Regar, Pak Endang, Pak Simon dan Pak Tasman, telah muncul di depan pintu, klinik bersalin Bidan Tati. Tak lama suamiku muncul di depan pintu. Mereka senyum-senyum memandang aku dan suamiku silih berganti. Tak ingin dilihat dan didengar Nisa, kami menuju teras klinik. “Marun, kamu hebat!!” komentar Pak Regar, benar-benar terkagum nampaknya. “Hey, pake jimat apa kamu, Run? Kok bisanya menyatukan Santi dengan Nisa dalam satu rumah?” yang ini isengnya Pak Simon.

“Iya nih, Santi…Terbuat dari apa hati kamu. Mau juga tuh punya istri seperti kamu.” Olok Pak Tasman. Kulihat suamiku senyum-senyum simpul. Akupun tak urung senyum-senyum saja. Ya, tiga hari yang lalu Nisa, istri kedua suamiku melahirkan. Nisa memang tinggal bersama kami. Aku yang memutuskan begitu. Kejadian ini bukan tak beresiko. Aku sendiri sulit mempercayai hatiku. Yang kurasa bahwa aku memerlukan kekuatan hati menerima terpaan suara di luar sana.

Nisa, adalah seorang gadis yang kos di rumah ibuku, saat ia mulai bekerja di perusahaan di kawasan kami tinggal. Belakangan aku tahu ia gadis yatim piatu. Dia cantik, bahkan lebih dari itu, dia sangat bersahaja. Dan yang membuat aku terkagum padanya, dia sholehah. Akupun jatuh hati padanya, sebagai sesama wanita. Sekali waktu aku terngiang ucapan guruku ketika aku sekolah dulu. “Perbandingan laki-laki dan wanita di dunia ini sudah 1 : 7. Lalu akan dikemanakan wanita-wanita yang tidak mendapatkan jodohnya? Apalagi jika wanita itu sholehah?” Dan aku menyayanginya sebagai sesama wanita, layaknya saudara.

Hingga suatu hari, Nisa diberhentikan bekerja pada perusahaan tempat ia bekerja. Entah mengapa aku mengkhawatirkannya. Kutawarkan agar ia tinggal bersamaku dan ikut membantu aku mengasuh anak-anakku, Perdana dan Gita karena kuingin, pengetahuan agamanya yang jauh lumayan dibanding aku, akan sangat membantu aku dalam mendidik mereka. “Nisa, Teteh tinggal dulu ya.. Tolong nanti Gita diberi makan, sayur dan lauknya sudah Teteh masak. Teteh akan mengantar Perdana ke sekolah,” suatu hari aku berpesan, setelah Mas Marun berangkat kerja. Hari itu Mas Marun long shift.

Sepulang Perdana sekolah, setiba di rumah, aku masuk ke kamar. Kudapati Gita sangat nyenyak dalam pelukan Nisa. Ah, betapa ada kedamaian dalam hatiku. Tiba-tiba aku ingat lagi ucapan guruku, ”Wanita yang mengikhlaskan suaminya menikah lagi, sesungguhnya ia telah membangun rumahnya di surga.” Aku bukanlah wanita sempurna. Pengetahuan agamaku sedang-sedang saja. Namun sedikit banyak aku tahu bagaimana menjadi wanita sholehah. Dengan mematuhi ajaran Allah. Menghormati kedua orangtua, mematuhi suami. Tidak suka ghibah dan fitnah. Pandai menjaga harta suami. Mendidik anak-anak dengan baik. Sedikit berinfak dan shodaqoh semampuku. Itu saja..Tak lebih.

Aku sangat berkhayal memiliki rumah di surga, meski pengetahuan agamaku sangat sederhana. Terlebih, karena sayangku pada Nisa. Dia wanita sempurna yang pernah kutemui. Dia masuk ke dalam kehidupanku yang rawan. Aku ingin memilikinya. Bukan sebagai kekasih layaknya orang bercinta. Tiba-tiba aku takut kehilangan mutiara yang telah kutemukan dan kubawa ke dalam rumahku.

Sepulang Mas Marun kerja, usai kusediakan teh hangat untuknya, di atas pembaringan… “Mas, maukah kau memenuhi permintaanku? Sekali ini saja,” Kukuatkan hati untuk menyampaikan keinginan ini. Entah dari mana datangnya dorongan itu. Seperti bermimpi. “Hmm…Apa itu?” Jawab suamiku tanpa ekspresi. “Maukah Mas menikahi Nisa?” Aku seolah melayang mengatakan itu, tapi aku yakin sekali dengan pendirianku.

“Apa? Apa maksudmu?” Mas Marun tersentak. Hingga kembali duduk di tepian ranjang. “Ya. Seperti yang Mas dengar, aku ingin Mas menikahi Nisa.” Kataku mantap. “Santi….Kau..Kau sungguh-sungguh? Apa alasanmu? Masih dengan raut tak percaya. “Mas, Nisa baik, dia sangat sholehah. Aku menyayanginya. Aku tak ingin kehilangan dia. Aku ingin ia tetap mewarnai rumah kita.” Dengan keteguhan hati, tanpa beban kulepaskan semua perasaanku. Mas Marun menggeleng. Aku kembali meyakinkannya, bahwa itu keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam.

Tak lama berselang, dihadapan ibuku kami menikahkan Mas Marun dan Nisa, disaksikan kedua putra putriku. Kuingin mereka menerima dengan lapang hati hadirnya Nisa di rumah kami. “Panggil, Ammah ya pada Mbak Nisa,” pesanku pada Perdana dan Gita, usai pengucapan ijab itu.

Seperti yang kukatakan, berat memang. Bukan menata hatiku, tapi menata suara-suara yang muncul dari tetangga. Seperti kebanyakan rumah di BTN, ibu-ibu memang doyan ngerumpi. Ada yang mengatakan,” Gak mungkin begitu mudahnya suaminya menikah, diijinkan, tinggal serumah pula. Kalau bukan karena suaminya punya majig.” Atau “ Pasti tuh Santi diguna-gunai istri mudanya. Wong sejak awal sudah tinggal di rumahnya. Pasti aja dalam masakannya dicampur ini-itu.” Macam-macam! Aku mencoba menyabarkan Nisa. Dan aku bersaksi, bahwa apa yang kulakukan itu semata-mata karena aku menyayanginya dan aku mendambakan surga.

Memang, setelah menikah, rumah kembali kutata. Bahwa kamar yang dua itu harus bisa berguna tanpa salah guna. Jika aku mesti tidur dengan Mas Marun, anak-anak tidur dengan Nisa. Jika Mas Marun jadwalnya bersama Nisa, aku tidur bersama anak-anak. Sesekali memang terselip cemburu di hatiku. Jika tanpa sengaja aku mendengar mereka bercengkrama di tengah malam buta. Aku sedikit tersulut. Ada rasa marah tapi kembali aku istigfar. “Bukankan aku ingin menggapai surga itu?”

Dan terlebih sulit saat kedua anakku bertanya, ”Ma, Ammah Nisa itu siapa? Kok bobo’ sama Papa?” Dengan bijak aku menjelaskan pada mereka, ”Amah Nisa itu Ibu kalian juga. Jadi kalian memiliki dua Ibu, Mama dan Ammah Nisa”. Namun Gita menyela,” Kalau begitu manggilnya bukan Ammah dong. Panggil Ibu, kan Ma?” Aku terkejut. “O, iya. Ya sudah, kalau begitu panggil Ibu saja.” Lega rasanya dengan penerimaan anak-anakku pada Nisa. Ini yang terpenting bagiku, agar tak ada lagi beban.

Tiga hari yang lalu, di tengah malam, saat Mas Marun sedang shift malam, “Teh..Teteh…., perutku mules.” Nisa meringis meraba perutnya yang buncit, saat kehamilannya sudah mencapai sembilan bulan. Ya Tuhan! Aku panik, khawatir…tak tahu harus berbuat apa. Segera kusambar handphone, “Mas…!!!! Nisa Mas…Nisa…!!!” aku semakin kalang kabut.

Tak lama kami sudah berada di klinik bersalin itu. Tengah malam, bersama gelap sejuta resah, kami bawa Nisa ke Bidan Tati yang jaraknya lebih kurang 6 kilometer dari rumah. Aku hilir mudik menanti, kulihat Mas Marun juga demikian. Kami layaknya kakak-adik yang gelisah, khawatir menanti suasana yang belum jelas. Aku berdoa, jangan sampai Nisa dicesar. Kudengar erangannya dari dalam. Entah darimana asal mula pikiran itu,”Bu, ijinkan saya masuk,” bujukku pada bu bidan. Tiba-tiba Mas Marun memutuskan hal yang sama. Entah kekuatan dari mana pula, tangan kami berdua menggenggam tangan Nisa. Aku di kanan dan Mas Marun di kiri.

Motivasi yang kuiringi dengan doa ini, mungkin yang membuat Nisa mendapatkan sugesti. Aku melihat perjuangannya. Aku melihat tarikan nafasnya. Aku merasakan eratnya genggaman tangannya menahan sakit. Kubisikkan kata-kata itu, ”Yang kuat, Nisa…yang kuat! Teteh di sini…Mas Marun juga di sini….” Dini hari Senin itu, lahirlah anak Nisa, anak suamiku, anakku juga. Aku sangat bahagia. Kutimang-timang bayi mungil itu, sambil meminta izin pada Nisa, agar aku yang memberinya nama. Kuberi nama, Mumtaz Patria.

Masih tersenyum-senyum keempat bapak, teman-teman suamiku berpamitan. “Santi, hatimu terbuat dari pualam,” seloroh Pak Regar. Sepulang mereka, tiba-tiba kulihat langit tempat bumiku berpijak berputar-putar. Kemudian aku tak sadarkan diri. Saat kubuka mataku, aku sudah berada di ruang putih itu. “ Mas, aku dimana?” “Kita masih di klinik?” Kulihat Mas Marun khawatir.

“Tenanglah dulu. Kau kelelahan, Dik.” Sudah lama tak kudengar kata “dik” itu, kini seperti berbunga dalam hatiku. Sejak hadirnya Nisa di rumah, namun kucoba tepis semua, karena kuingin surga. “Mas, aku titip anak-anak juga Nisa ya…Mas aku tak kuat lagi.” Sudah lama aku sembunyikan penyakit yang bersarang di kepalaku, tumor otak. “Tolong antarkan aku pada Nisa.” Pintaku untuk terakhir kali, dengan mata masih berkunang-kunang. Aku dibawa Mas Marun dengan kursi roda itu. Setiba di kamar Nisa,

“Nisa, Teteh mungkin gak bisa lama lagi…Teteh titip anak-anak juga Mas Marun. Teteh sayang padamu….” Tiba-tiba aku ingin muntah….. “Hhhhuuuaaak…Hhhuuuuaaaakkk!!!!!” Darah segar keluar dari mulutku. Setelah itu dunia gelap bagiku. “Teteeeeeeehhhh!!!!” Nisa memaksakan diri memeluk diriku yang sudah dingin dan beku (aku hanya bisa menatap dari beda dunia). “Deeeeeekkkk!!!! Marun pun tak urung menggapai tubuhku seolah tak ingin melepaskannya, baru kusadari setelah pergi ternyata ia masih sangat mencintaiku.

Sambil suara hatinya yang terlontar,” Sungguh mulia hatimu, Dek. Belum pernah aku menemukan sosok wanita dalam hidupku semulia dirimu. Ya Rabbi, tempatkan ia di tempat yang mulia disisiMu.”

Greaters, jika kamu memiliki cerita pendek menarik, bisa langsung tulis di GreatPedia. Tentunya karya dan ide kreatif buatanmu. Selamat mencoba!

Baca juga Pesan Di Ujung Zaman (Untuk Muridku)