Terasa olehku hidup ini hanya untuk main-main, bersenang-senang, dan berkompetisi untuk menunjukkan bahwa siapa yang terkuat dialah yang akan menang. Aku adalah Karina yang memiliki otak cemerlang dan penampilan fisik sempurna serta cantik. Kekuatan adalah kunci terbesar yang akan menentukan apakah kita bisa bertahan hidup atau tidak. Aku terlahir dari orang tua yang sangat peduli akan anak-anaknya dan bahkan sangat dimanjakan. Kemudahan dan kemewahan selalu aku dapatkan, tidak akan pernah bosan untuk menikmati fasilitas yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Ini mungkin bisa menjadi relasi yang memberikan benefit atau senjata makan tuan bagiku.

Aku memiliki dua sahabat yaitu Tasya dan Mery. Mereka berdua adalah teman yang sehati denganku dalam hal visi dan misi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa aku hanya berteman dengan orang-orang kaya dan harus selevel kekayaannya denganku, jikalau tidak orang tersebut aku anggap sebagai sampah yang harus dikubur dalam tanah atau dibakar agar menjadi abu. Kami selalu bersama dalam semua hal, baik itu ke kampus dan jalan-jalan.

Kedua orang tuaku sangatlah sibuk, mereka selalu pergi ke Jepang untuk mengurusi pekerjaannya, sehingga mereka selalu tidak ada waktu untuk bersama denganku. Di dalam rumah yang megah ini, hanya ada aku dan para babu. Sejak kecil, aku banyak diajari tentang keduniawian sehingga ajaran agama sangatlah kurang di pengetahuanku. Hal yang paling aku benci adalah kemiskinan dan penyakit. Dua hal itu bagaikan sampah besar yang harus disingkirkan di dunia ini.

Selain memiliki sahabat, tentunya aku juga memiliki musuh-musuh yang harus aku kalahkan dan permalukan. Mereka adalah Siti dan Vina. Mereka adalah dua tikus perempuan yang berbahaya bagiku. Siti merupakan mahasiswi berprestasi di kampus dan ia memiliki prestasi-prestasi yang banyaknya hampir sama denganku. Oleh sebab itu, aku tidak mau ada yang mengungguli prestasiku. Aku pernah kalah berkompetisi dengannya dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional.

Namun, aku tetap menganggap dia tidak sepintar diriku. Hal yang paling membuatku benci adalah dia miskin dan kakinya pincang. Berbalik dengan Siti, Vina adalah cewek kaya yang juga cantik. Hal itu tentunya dapat menyaingi kepopuleranku di kampus sehingga hal itu tentunya tidak akan pernah kubiarkan. Pada kompetisi pemilihan model kampus tahun ini aku dikalahkan olehnya, pada saat itu memang kesehatanku menurun dan ini tentunya tidak adil bagiku. Seenaknya saja dia mengejekku dengan mulut berbisanya itu. Tentunya bukan Karina namanya jika tidak berbuat sesuatu. 

Rencana adalah strategi untuk kita dapat menang dengan cara apapun itu. Terlintas rencana cerdasku untuk mengeluarkan Vina dari kampus. Hal itu aku rencanakan dengan sempurna, yaitu jebakan untuk menanggung rasa malu yang akan dia dapati. Untuk rencana ini, aku harus berpura-pura baik dengan dia lalu pada saat itu, aku ajak dia ke rumah makan, tentunya aku yang membayar semua dan hal itu diterimanya dengan senang hati tetapi tetap saja aku masih dendam dengannya.

Di dalam minumannya aku campurkan obat tidur dan setelah dia meminumnya obat itu beraksi. Setelah itu, aku bawa dia ke hotel dan aku pertemukan dia dengan pria bayaran untuk melakukan hal yang keji kepada Vina. Pada malam itu, Vina memberikan keperawanannya untuk pria itu. Betapa bahagianya aku karena foto dia dan pria itu di ranjang dapat kusebar luaskan di media sosial dan tentunya dekan fakultas kampus.

Hasilnya, dia mendapat banyak kecaman dan tidak bisa terhindar dari lubang kehancuran. Beribu-ribu alasan yang telah ia lontarkan ke pihak kampus, namun tidak berhasil juga karena bukti nyatanya adalah tes urine yang menyatakan ia positif hamil. Ia akhirnya berhasil aku tendang dari kampus. Ia tetap saja menaruh curiga kepadaku dan menuduh aku merencanakan semua ini. Lalu, aku tantang dia untuk membuktikan tuduhannya terhadap diriku.

Akhirnya, satu tikus sudah berhasil aku buang dan tikus selanjutnya adalah Siti. Mudah bagiku untuk mencelakakan dia, mungkin dengan menabrak dia dan setelah itu dia kembali ke surga. Membuat dia mati adalah hal terbaik dalam hidupku karena tidak ada lagi sampah seperti dia. Pada saat dia ingin pergi ke kampus aku mengikuti dia dengan mobilku dan ketika ia hendak menyebrang jalan, langsung aku memacu kendaraanku dengan kecepatan penuh.

Namun sayangnya, rencanaku berantakan karena ia berhasil menghindar dengan cepat karena ada orang yang menarik tubuhnya langsung ke trotoar jalan. Setelah aku melihat kejadian itu, amarahku semakin memuncak. Dikarenakan kesal emosiku tidak terkendalikan, seenaknya saja aku membawa mobil di jalan dengan kecepatan tinggi dan pada saat itu Tasya mengirim pesan singkat kepadaku, dikarenakan keasyikan membalas pesan singkat darinya, tanpa disadari aku hilang kendali setir mobil dan sialnya ada jurang yang sangat dalam d pinggir jalan, akhirnya aku jatuh ke dasar jurang itu. 

Aku masih beruntung karena ada masyarakat sekitar yang melihat kejadianku itu, langsung mereka menolongku untuk dibawa ke rumah sakit. Sesampai di rumah sakit, orang tuaku mejenggukku dari Jepang. Hal yang paling aku terkejut ketika aku sadar dan kedua kakiku harus dipotong untuk menyelamatkan nyawaku secepatnya. Langsung aku teriak dan menanggis mengapa hal ini harus terjadi pada diriku. Setelah beberapa hari, aku diizinkan dokter untuk kembali ke rumah.

Sedihnya hatiku bahwa kedua orang tuaku ingin memasukkan aku ke panti asuhan karena mereka malu melihat kondisi kakiku yang buntung. Aku bagaikan bekas anak oleh mereka dan mereka hanya menginginkan anak-anak yang sempurna seperti kedua kakakku di Malaysia sana. Hatiku tersayat-sayat sakitnya luar biasa. Inilah karma yang harus aku terima dan memang sepantasnya aku dapatkan. Di panti asuhan, aku mulai belajar untuk menghargai hidup ini dan rasa kasih sayang yang jarang aku dapatkan di rumah bisa sering aku rasakan di sini.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasakan indahnya kekeluargaan karena aku bersama anak-anak lainnya yang juga memiliki nasib serupa denganku. Dari situlah aku mulai membuka kalbuku untuk menerima semua ini. Tidak aku sangka, aku bertemu dengan Vina dan ia telah menikah dengan anak pemilik panti asuhan ini. Langsung pada saat itu, aku mencium tangannya dan meminta maaf atas segala kesalahan yang telah aku lakukan kepadanya bahwa aku yang menjebak dia.

Awalnya Vina menolak permintaan maafku namun setelah dia melihat kondisi tubuhku yang duduk di kursi roda, hati Vina akhirnya terketuk dan mau untuk memaafkanku. Setelah itu, aku meminta kepadanya untuk mengantarkanku bertemu dengan Siti. Pada saat itu, prestasi Siti sangat luar biasa karena ia banyak menjuarai lomba-lomba internasional. Sesampai di rumah Siti, aku langsung memanggilnya dan setelah ia keluar menemuiku, aku langsung meminta maaf yang sebesar-besarnya karena peristiwa kecelakaan pada diriku ini niat pertamanya adalah untuk menabrak dia.

Syukur Siti anak yang sangat baik, dia mau untuk memaafkanku tetapi syaratnya aku harus berhijrah perilaku. Air mataku turun membasahi pipi karena bahagianya aku karena dia mau membimbingku untuk menjadi wanita baik. Aku memulai hijrahku dengan memakai jilbab, menunaikan salat lima waktu, mengaji, dan melakukan hal-hal kebaikan lainnya. Semenjak itu, kalbuku mulai hidup karena adanya hembusan napas iman di kalbuku dan tentunya pelukan kasih sayang Allah untuk kalbuku karena semua ini adalah karunia dari Allah.

Greaters, pelajaran apa yang bisa kamu ambil daru cerita di atas? Coba untuk isi di kolom komentar pendapatmu. Nah, jika kamu memiliki cerita pendek menarik dan inspiratif karanganmu, silakan tulis di GreatPedia. Selamat mencoba!

Sumber gambar utama: Shutterstock

Baca juga Cerita Pendek: Surga Cinta