Sementara rekan-rekan seangkatannya pada Fakultas Ekonomi sedang melangsungkan seminar tentang pengentasan kemiskinan, Hasanah pulang ke rumah bibinya yang dikabarkan sedang sakit di desa. Sebenarnya berat hati juga ia meninggalkan acara tersebut. Tetapi apa boleh buat, kesehatan keluarga dianggapnya lebih penting. Apalagi sejak ditinggal orangtua pada usia tiga tahun, ia sudah tinggal dengan bibinya itu.

Jarak dari kota ke rumahnya bibinya sekitar tiga puluh kilometer. Jadi bisa kembali hari itu juga sehingga bisa mengikuti kuliah esok harinya. Baru saja beberapa langkah setelah turun dari bis di pinggir jalan, tiba-tiba ia menghampiri pak Ade, seorang pria berpeci miring yang sedang berjualan abu gosok. "Pakai literan ya?", tanya Hasanah sambil merapihkan jilbabnya. "Ya. Biasanya pembeli diminta untuk menyediakan tempatnya". "Seliternya?". "Seratus ratus rupiah. Mau beli berapa?"

Entah kenapa, air mata pun bergulir di pipi gadis yang hidupnya pas-pasan itu. "Di sini ada yang jual kantong plastik, pak!?". "Ooo, banyak. Tuh di seberang", si pedagang menunjuk sebuah warung di pinggir jalan. Pergilah Hasanah ke sanah, membeli dua kantong plastik yang biasa dipakai untuk gula pasir. Tidak lama kemudian balik lagi. "Dua liter saja, pak!", ujar Hasanah sambil mengambil uang logam lima ratus rupiah. "Begini, pak! Kalau itu dibungkus dengan plastik seperti itu, kemudian dijual kota, harganya bisa sampai dua setengah kali lipat lho!"

"Ah, Masa? Seratus rupiah, rasanya sudah mahal", kata pedagang terkejut". "Saya tidak bohong kok! Nah, mulai kapan gitu, bapak bungkus saja dengan plastik untuk setiap liternya. Kemudian di bawa ke kota. Apakah langsung dijual kepada pembeli atau dititipkan pada toko kelontong, terserah bapak. Bagaimana?", ujar Hasanah dengan ekspresi orang yang memberi semangat. "Sebagai bukti awal, nih saya bayar dengan liam ratus rupiah".

Kini giliran pak Ade yang matanya berkaca-kaca. "Mengapa bapak menangis? Apa omongan saya tadi salah?", tanya Hasanah gelisah. "Tidak, hanya terharu. Baru kali melihat anak muda yang peduli dengan kehidupan orang seperti bapak ini. Insya Allah, beberapa hari lagi akan bapak coba". "Semoga Allah memberkahi Bapak. Sekarang saya permisi dulu ya, mengunjungi bibi saya, Tuh rumahnya, yang dekat pohon pisang", ujar Hasanah.

"Kalau bisa ambil lagi uang ini sebagai tanda terima kasih bapak. Kalau mau, abu gosoknya bapak tambah lagi. Tidak usah bayar. Kalau perlu nanti bapak antar". "Jangan dong. Nanti bapak rugi. Insya Allah, kalau yang ini sudah habis, bibi akan saya minta membelinya kepada bapak"

Tujuh bulan kemudian Hasanah memperoleh kabar, nasib pak Ade sudah berubah. Akibat setiap hari ke kota, pak Ade berinisiatif juga untuk berjualan barang lainnya. Sehingga yang sebelumnya hanya bisa makan dua kali sehari, yang itu pun dengan lauk-pauk sederhana, sudah bisa sampai tiga kali, bergizi pula. Dampak lainnya, sejumlah penduduk yang juga berjualan abu gosok mengambil langkah yang sama, setelah melihat kemajuan pak Ade. Sementara pak Ade beserta istri dan kedua anaknya sudah dianggap keluarga oleh bibinya Hasanah.

Baca juga Pengertian Cemburu dari Segi Seorang Wanita