Perempuan itu senang sekali menghabiskan waktunya untuk duduk sambil bersenandung di beranda rumahnya. Kadang bisa sampai seharian dia menghabiskan waktu di tempat itu. Namanya Clara. Tapi orang-orang lebih senang memanggilnya dengan sebutan Clara gila! Awalnya Clara tidak gila, dia hanya amnesia. Namun karena tidak ada satupun bagian dari masa lalunya yang mampu ia ingat, makanya sekarang dia menjadi gila. Aku sendiri miris melihat keadaannya yang menjadi seperti ini. Clara itu bukan orang lain, dia adalah anak dari pamanku yang seorang buruh bangunan.

Clara tidak ingat apapun. Jangankan mengingatku, mengingat dirinya saja dia tidak bisa. Yang dia ingat saat ini adalah senandungnya saja, hanya itu! Setiap pagi dan sore, senandung sumbangnya itu selalu merambat bersama angin hingga sampai di telingaku. Senandung yang sama, tentang elegi. Aku tidak mengerti kenapa Clara tiba-tiba menjadi amnesia lalu gila. Yang aku ingat, lima bulan yang lalu kekasihnya meninggal dunia―entah karena sebab apa―, kabar itu sampai padanya ketika suatu pagi aku hendak pergi mengantar Clara untuk memesan kebaya pertunangannya.

Jangankan Clara, aku saja tidak percaya mendengar kabar kematian itu. Masih segar dalam ingatanku, dua hari sebelum kematian kekasihnya Clara, tanpa sengaja aku melihat lelaki itu menggandeng seorang perempuan, tapi bukan Clara! Sebenarnya aku ingin menyampaikan ini pada Clara, tapi urung karena aku takut membuat retak hubungan mereka. Setidaknya, kejadian dua hari sebelum kematiannya membuat aku yakin kalau lelaki itu tidak mati karena alasan sakit!

Aku tahu persis bagaimana perasaan Clara ketika mendengar kabar buruk itu. Dia memang tidak menangis. Tapi sinar matanya menyiratkan kepedihan yang tidak bisa direalisasikan hanya dengan tangisan. Aku kenal betul dengan Clara, dia tidak suka memperlihatkan kesedihannya kepada siapapun, tapi kali ini dia nampaknya tidak bisa melakukan hal itu lagi. Kali ini Clara bersedih, meski mencoba untuk menahan air matanya tetap saja dia tidak mampu berkata-kata. Clara terluka. . .

Setelah kematian kekasihnya, Clara menjadi pendiam. Awalnya aku memaklumi, mungkin dia sangat terpukul dengan kematian kekasihnya itu. Bagaimana tidak, kekasih yang teramat dicintai dan yang akan menjadi tunangannya tiba-tiba meninggal dengan sebab yang tidak jelas. Kasus meninggalnya lelaki itu sempat menghebohkan warga kampungnya, sampai-sampai kasus kematian tersebut dilaporkan kepada pihak kepolisian.

Dengan hati-hati aku mencoba menanyakan pada Clara tentang penyebab kematian kekasihnya, tapi dia tidak pernah mau membahasnya. Ketika aku menginformasikan bahwa kasus kematian kekasihnya itu sedang ditangani polisi, dia juga tetap tidak mau tahu. Ya sudahlah, mungkin dia tidak mau tahu dengan semua alasan yang menjadi penyebab kematian kekasihnya, mungkin dipikirannya, percuma tahu juga toh tidak akan membuat kekasihnya hidup kembali.

Beberapa minggu setelah kasus kematian itu, polisi menyimpulkan bahwa kekasihnya Clara dibunuh! Beberapa luka tusukan pisau ditemukan disekujur tubuhnya. Tidak hanya itu, menurut hasil visum, luka diwajah korban adalah hasil sayatan benda tajam sejenis cutter. Mengenaskan sekali. Mengapa nasib kekasihnya Clara begitu tragis? Setahuku, kekasihnya itu orang baik, kecil kemungkinan kalau dia memiliki musuh yang sampai tega menghabisi nyawanya dengan cara seperti itu.

Tapi lagi-lagi, Clara tidak mau mendengar sedikitpun tentang kabar penyebab kematian kekasihnya. Dia juga tidak penasaran dengan siapa orang yang telah membunuh kekasihnya. Sepertinya Clara sudah tenggelam dalam kesedihannya. Semakin hari, polisi semakin gencar melakukan pencarian terhadap pelaku pembunuhan kekasihnya Clara. Sampai-sampai mengintrogasi Clara tentang peristiwa terakhir apa saja yang dilakukannya dengan korban sebelum pembunuhan itu terjadi.

Memang, malam hari sebelum pembunuhan itu, Clara bersama kekasihnya, menikmati makan malam di suatu rumah makan lesehan di pinggir jalan. Clara sendiri yang menceritakannya padaku, menurutnya itu adalah kencan terindah yang selama ini baru dialaminya. Tapi kepada polisi, Clara hanya menceritakan seadanya saja. Clara juga menolak untuk diintrogasi lebih lanjut. Polisi tidak kehabisan akal, dia terus memaksa Clara untuk memberikan keterangan yang lebih jelas tentang kejadian malam itu, malam sebelum kekasihnya meninggal dunia.

Beberapa hari setelah polisi meminta keterangan dari Clara mengenai kematian kekasihnya, Clara tiba-tiba menghilang. Pihak keluarga dan polisi telah melakukan pencarian ke tempat-tempat yang mungkin di singgahi Clara, tapi hasilnya nihil! Aku mengira, reaksi Clara ini akibat frustasi karena ditinggal mati kekasihnya. Semua orang pun mengira begitu. Satu bulan―kalau tidak salah― kemudian, Clara berhasil ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Clara lupa ingatan! Tidak satupun anggota keluarga yang dikenalinya. Aku sendiri bingung, apa yang telah terjadi selama satu bulan saat dia menghilang? Mengapa dia pulang dalam keadaan tidak ingat apapun?

Meskipun Clara sudah tidak ingat apapun, dan kasus kematian kekasihnya itu belum juga menemukan titik terang, maka polisi tetap mencari keterangan dari Clara yang sudah setengah gila. Tapi kali ini, Clara sudah tidak bisa lagi diajak bicara, sudah tidak bisa lagi dimintai keterangan apapun. Hingga pada akhirnya polisi menyerah dan menutup kasus pembunuhan tersebut.

Aku heran, mengapa Clara menjadi seperti ini? Kadang, dia menjerit-jerit seperti orang kesurupan. Kadang tertawa lalu menangis sejadi-jadinya. Apa kematian kekasihnya itu membuatya benar-benar terluka? Apa Clara belum bisa menerima takdir ini? Clara memang telah kembali pulang, tapi setengah jiwanya telah mati bersama kekasihnya. Sejak kepulangannya itu, Clara tidak bisa diajak komunikasi oleh siapapun. Dia hanya bersenandung kecil, kadang seperti orang yang sedih, tapi kadang juga dia seperti orang yang bahagia, tenang, damai dalam dunianya sendiri.

Clara gila...Clara gila...

Suara dari beberapa anak nakal itu membuatku sadar, sekarang aku sedang berada dihadapan Clara. Dia masih tenang dalam duduknya sambil bersenandung damai. “Bagaimana kabarmu Cla?” Aku tahu, percuma saja aku mengajaknya berbicara, karena dia tidak akan merespon sedikitpun. Tapi aku rindu dengan Clara yang dulu. Clara yang ada dihadapanku sekarang tidak lebih dari seorang mayat hidup! Dia memang masih cantik, kulitnya bersih dan putih, tapi sayang dia sudah kehilangan setengah jiwanya.

Clara tersenyum! Iya, dia tersenyum padaku. Dia memang tidak menjawab dengan kata-kata, tapi senyumnya itu seolah memberikan jawaban kalau dia baik-baik saja. Aku terenyuh, apakah ini sebuah pertanda kalau keadaan Clara sudah membaik? “Kau cepat sembuh ya Cla, aku ingin kau kembali seperti dulu!” Aku berharap ada respon lagi dari dia. Dan, aku kaget ketika Clara menyentuh tanganku dan menariknya, dia seolah ingin mengajakku ikut bersamanya. Aku ikuti, dan ternyata dia membawaku ke kamarnya. Aku mengamati seisi kamarnya, berbeda sekali dengan keadaan kamarnya yang dulu waktu dia masih normal. Sekarang kamarnya berantakan, sangat berantakan!

“Apa yang mau kamu tunjukan Cla?”

Clara duduk di atas tempat tidurnya. Dia tersenyum padaku, dan aku semakin bingung dengan maksud semua ini. Mungkin benar kata orang, kalau Clara sudah gila dan aku jangan terlalu berharap kalau Clara akan kembali normal lagi. Aku hendak pergi dari kamarnya, tapi aku melihat reaksi lain dari matanya. Clara melirik pada meja yang ada Odisamping tempat tidurnya.

“Ada apa Cla?” Yah, sia-sia saja bertanya, karena yang ditanya juga tidak akan menjawab.

Tapi karena penasaran, akhirnya aku putuskan untuk melihat barang-barang yang ada di atas mejanya itu. Tidak ada yang spesial, selain beberapa helai kertas yang berisi puisi kecemburuan yang bertanggalkan sehari sebelum kematian kekasihnya. Biasa saja, puisi yang lugas tanpa diksi yang rumit sehingga lebih terkesan seperti luapan emosi. Tidak hanya itu, aku juga menemukan puisi yang bertanggalkan hari ini. Apa? Hari ini Clara menulis puisi? Padahalkan dia sedang dalam kedaan gila? Tapi, sebentar. . . cemburu? Clara cemburu pada kekasihnya? Kenapa? Aku menengok pada Clara, lagi-lagi dia tersenyum. Firasatku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini.

Dari atas meja tersebut aku mencari sesuatu, meski tidak jelas barang apa yang aku cari, tapi aku yakin akan menemukan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada ini yang bisa menjawab semua rasa penasaranku. Aku sangat berhati-hati sekaligus jeli, takut ada sesuatu yang terlewatkan oleh pandanganku.

Pluk!!!

Aku langsung menoleh ke arah Clara, kaget dengan apa yang dilakukannya. Pada papan dart itu, Clara memasang sebuah foto, foto yang sudah dipenuhi dengan anak panah. Foto kekasihnya. . .“Apa yang kamu lakukan Cla?” Aku semakin penasaran, sementara Clara terus menghujani foto itu dengan anak panah sambil tertawa.

“Cla! Kamu sadar gak itu foto siapa?” Tidak sedikitpun Clara mendengar perkataanku. Dia terus saja tertawa. Aku semakin merasa penasaran, sejak kapan dia suka dengan permainan macam itu. Sepertinya memang benar-benar ada yang tidak beres. Aku yakin akan menemukan sesuatu dari sini. Tawa Clara makin menggema di ruangan sempit ini. Dia seperti kesurupan! Bisa saja aku meninggalkannya, tapi aku lebih penasaran untuk mencari sesuatu yang mungkin saja ada hubungannya antara puisi ini dengan kematian kekasihnya. Tidak, aku tidak menemukan apapun, sepertinya ini hanyalah lelucon orang gila saja dan― Astagfirullah!

Aku hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat! Ini tidak mungkin! Aku membolak-balik surat tersebut, membacanya berulang-ulang. Itu surat panggilan dari kepolisian, Clara menjadi tersangka atas kasus pembunuhan kekasihnya. . . Aku kembali menatap wajah polos Clara. Dia tersenyum manis sekali. Tapi apa maksudnya? Clara menulis puisi hari ini, foto kekasihnya di papan dart, dan dia menjadi tersangka atas pembunuhan itu. Jangan-jangan waktu Clara menghilang itu adalah salah satu trik dia untuk melarikan diri, dan saat ini Clara hanya pura-pura gila agar lolos dari jeratan hukum?

Astagfirullah Clara. . .

Kali ini Clara menangis, dia duduk di sampingku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Gila kah Clara? Aku yakin saat ini Clara tidak gila! Dia hanya pura-pura gila. Tapi apa alasannya melakukan semua ini? Sampai kapan dia akan melakukan sandiwara ini? Sesaat aku memang yakin kalau Clara tidak gila, tapi saat ini pikiranku berubah dan yakin kalau Clara memang gila! Dia mulai tertawa lagi layaknya orang gila, menangis dan bersenandung sumbang. Clara menjadi gila karena berpura-pura gila, atau Clara memang gila dan berpura-pura tidak gila?

Greaters, jika kamu memiliki ide dan kumpulan cerita pendek menarik, silakan langsung tulis di GreatPedia. Selamat mencoba!

Baca juga Puisi: Gelas Kopi