Teknologi informasi dan komunikasi merupakan industri yang akan tumbuh sangat besar di masa depan, karena itu pula Indonesia saat ini sudah mulai menyusun kurikulum yang memberikan kesempatan para pelajar untuk dapat mempelajari segala seluk-beluk industri di masa depan. Secara spesifik bahkan Presiden Joko Widodo mendorong agar siswa dapat mempelajari bahasa pemrograman (coding), kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan berbagai hal terkait IOT (internet of things).

Sebagaimana dilaporkan oleh The Conversation Indonesia, dukungan terhadap imbauan ini belum terealisasi secara baik dalam materi pelajaran formal di sekolah. Coding khususnya, merupakan pengetahuan yang memiliki peluang kerja tinggi di sektor TIK masa depan, tanpa persiapan yang baik bisa jadi kebutuhan sumber daya manusia di masa depan akan banyak diisi oleh tenaga profesional dari luar negeri.

Mengutip sebuah laporan konsultan keuangan Inggris KPMG, Indonesia diperkirakan mengalami kekurangan 9 juta tenaga kerja di bidang TIK hingga tahun 2030 mendatang. Itulah kenapa optimalisasi kurikulum pendidikan yang mengajarkan TIK menjadi penting saat ini.

Seberapa penting mempelajari bahasa pemrograman atau coding?


Sumber : Medium

Belajar bahasa pemrograman atau coding sendiri sebenarnya pernah diajarkan tetapi justru dihapuskan 2013 dari mata pelajaran TIK. Ditambah lagi memasuki tahun akademik 2019-2020, mata pelajaran ini hanya menjadi opsional yang sifatnya tidak wajib dipelajari, sehingga laporan The Conversation Indonesia menganggap hal ini dapat mempersempit kesempatan para siswa mempelajari ilmu coding secara formal.

Mata pelajaran coding saat ini kemudian cenderung menjadi mata pelajaran mahal yang hanya tersedia lewat sekolah-sekolah privat. Hal ini menimbulkan kesenjangan akses pendidikan, karena siswa dari keluarga kurang mampu cenderung sulit mengakses pendidikan ini dan menyebabkan mereka kemudian tidak menyadari pentingnya belajar coding. Agar siswa kurang mampu tidak tersingkir dari kesempatan kerja sektor TIK, upaya pemerintah menjadi sangat dibutuhkan dalam menjawab kesulitan ini.

Setiap tahunnya terdapat 1,2 juta lulusan SMA, dengan tidak meratanya akses pendidikan TIK memunculkan masalah baru pada angkatan kerja yaitu ketidakcocokan keahlian pada kebutuhan industri yang semakin hari semakin di digitalisasi. Padahal mempelajari coding, dipercaya mendorong para siswa untuk lebih berpikir kritis, sistematis dan logis dalam memecahkan setiap permasalahan.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya?


Sumber : Belajar Koding

Perlu kita pahami juga bahwa perkembangan teknologi digital saat ini mengancam pekerjaan lama, selain karena digitalisasi juga karena terjadi robotisasi di berbagai aspek pekerjaan. Tidak cukup sampai disitu, kecerdasan buatan juga semakin nyata kehadirannya, dan ini menjadi tantangan nyata bagi negara seperti Indonesia.

Jika melihat sisi positif, sebetulnya ada banyak sekali kesempatan yang terbuka untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan produktivitas kerja yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Tetapi tentu dibutuhkan peran lebih besar dari pemerintah dan sekolah dalam memberikan bekal pelatihan dasar penggunaan komputer bagi siswa, tidak cukup di Jakarta, tetapi juga merata diseluruh daerah.

Artinya melihat konteks pembangunan di era digital ini, tidak boleh ada anak yang tertinggal dibelakang dalam mempelajari segala hal terkait teknologi. Semua siswa harus memiliki kesempatan dan akses yang sama dalam mempelajari dasar komputer, agar setiap siswa memiliki kesempatan yang sama pula untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dimasa depan.

Nah Greaters, hal inilah yang menjadi alasan mengapa pentingnya anak-anak belajar tentang teknologi di bidang informasi dan komunikasi demi bisa bersaing dengan negara-negara lain.


Penulis : Lajovi Pratama