Greaters sekalian pastinya sudah tidak asing dengan puisi. Bagian dari sastra ini mungkin menjadi favorit banyak orang untuk mendalaminya. Baik dari segi menulis atau membuat, membacanya, hingga mendengarkannya. Biasanya puisi menjadi salah satu tugas pada mata pelajaran bahasa Indonesia. Kamu diminta untuk membuat puisi dan juga membacakannya. Permasalahannya mungkin pada menentukan diksi atau pemilihan kata yang digunakan saat menulis puisi. Lalu bagaimana dengan yang namanya prosa? Lho bukannya puisi itu sama dengan prosa? Pastinya berbeda Greaters. Nah kira-kira apa saja perbedaan antara puisi dan prosa? Mari kita bahas penjelasannya.

Penguasa
Karya: Setiga

Zaman merana terbuai kuasa
Hanya penguasa yang merangkai kata
Berhak berbicara, mengatur tipu daya
Bertindak agung menyanjung dunia

Seakan tak mengenal Tuhan
Tak memandang, tak jelas melaksanakan kewajiban
Penuh nafsu, bertindak buta memutus kasar pengorbanan
Tak peduli sekitar, dunia fana dirasuki dikekalkan

Seperti lolongan, aku benci mereka!
Menghakimi binasa, mengabaikan budi
Penjilat! Tersimpan dua muka penuh dusta
Buas memangsa, membesi kokoh hati menancapkan duri!

Greaters, puisi itu terdiri dari bait-bait alias beberapa baris yang tersusun harmonis. Berbeda dengan prosa yang berupa pragraf. Satu bait, terdiri dari empat baris, untuk puisi lama yang terikat. Namun, untuk puisi modern zaman sekarang, jumlah baris dalam satu baitnya sudah bebas. Seperti contoh puisi di bawah ini:

Pahlawan
Karya: Setiga

Pahlawan....
Tanpa goresan pamrih, kau berjuang penuh duka bertema suka
Tak mengenal putus asa, tak bertepi ratapan senja
Kau berjuang penuh bahagia tanpa terluka
Semua karena keikhlasan yang meraja

Pahlawan....
Tanpamu dunia tak berguna penuh air mata
Tanpamu semua tak ceria, penuh sengsara
Laskar Sang Merah berapi-api
Laskar Sang Putih yang begitu suci

Ajari aku setegar hatimu, sekuat imanmu
Ajari aku sekuat dirimu, sehebat pengabdianmu
Biarkan aku menari dengan keberanianmu
Dan biarkan aku berjiwa satu dengan kesungguhanmu

Lantas, bagaimana dengan prosa? Seperti apa prosa? Perbedaan yang paling mencolok adalah prosa berupa paragraf-paragraf, alias serangkaian kalimat yang saling berhubungan. Berikut contohnya!

Orang memang tak bisa hidup tanpa harapan. Namun, selagi masih hidup, harapan akan selalu ada. Tentang perjuangan yang akan berujung, tentang tantangan yang akan dimenangkan, dan tentang tangisan yang menjerit bahagia.

Semua akan berganti dan berubah selagi kita 'yakin'. Maka, lanjutkanlah ... karena ini tentang hidupmu, atas apa yang menjadi alasan, mengapa kamu bisa sampai sejauh ini, mengapa kamu dipercaya Tuhan, menanggung beban seberat ini. Karena kamu, hamba pilihan.


Sumber : perbedaan.budisma.net

Nah, bagaimana Greaters menurut kamu? Pastinya terlihat sekali perbedaan dari isi puisi dan prosa. Ketika kamu melihat contoh prosa di atas, kamu pasti berpikir, “Wah, seperti cerita saja, ya?” Benar sekali, Greaters, Cerita pendek (Cerpen), novel, dan sejenisnya itu, termasuk ke dalam jenis prosa. Jadi, dengan perbedaan yang jelas seperti di atas, semoga kamu tidak tertukar atau sudah bisa membedakan mana karya puisi, dan mana karya prosa, ya, Greaters Semoga bermanfaat!

Sumber gambar utama : apaperbedaan.com
Penulis : Three Rahmadona

Baca juga Mengenal Reaksi Garam dalam Proses Pembuatan Es Krim