Covid-19 ternyata tidak hanya berdampak pada dibatasinya aktivitas bersekolah dan bekerja, namun juga pada berbagai kegiatan keagamaan. Pemerintah telah memberikan himbauan untuk mengurangi kegiatan keagamaan yang berkerumun dan melibatkan banyak orang. Tak terkecuali bagi umat Hindu di tanah air. Hari Raya Nyepi tahun Saka 1942 yang jatuh pada tanggal 25 Maret nampaknya akan terasa berbeda nih Greaters. Di Bali misalnya, pawai ogoh-ogoh yang biasa dilaksanakan sehari sebelum Catur Brata Penyepian ditiadakan. Lalu sebenarnya apa makna dari pawai ogoh-ogoh itu sendiri?

Di Balik Nama Ogoh-Ogoh

Ogoh-ogoh berasa dari bahasa Bali ‘ogah-ogah’ yang artinya mengguncang atau sesuatu yang diguncang-guncangkan. Masyarakat Banjar (desa adat) yang mengikuti pawai akan mengguncang-guncangkan ogoh-ogoh tersebut agar terlihat seperti bergerak dan menari. Menurut kepercayaan umat Hindu Bali, ogoh-ogoh merupakan perwujudan makhluk mitologi yang mewakili kejahatan yang perlu dijauhkan dari manusia. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan. Dalam perwujudan patung yang dimaksud, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan.

Ogoh-Ogoh sebagai Simbol Pemurnian

Cendekiawan Hindu Dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta dan waktu yang maha dahsyat. Kekuatan itu dapat dibagi dua. Pertama kekuatan Bhuana Agung yang memiliki arti kekuatan alam raya. Kedua adalah kekuatan Bhuana Alit yang berarti kekuatan dalam diri manusia. Kedua kekuatan ini dapat digunakan untuk menghancurkan atau membuat dunia bertambah indah.

Ogoh-ogoh yang telah diarak nantinya akan dibakar sebagai simbol pemurnian. Melalui dibakarnya ogoh-ogoh, artinya umat Hindu telah siap melaksanakan prosesi nyepi dalam keadaan suci. Di hari kesunyian itu, umat diharapkan untuk diam dan melakukan refleksi diri. Orang-orang tinggal di rumah dan tidak diizinkan untuk menggunakan lampu, menyalakan api, bekerja, bepergian atau menikmati hiburan.

Ternyata, Pawai Ogoh-Ogoh Bukan Bagian dari Ritual

Meskipun ogoh-ogoh selalu dibuat menjelang Hari Raya Nyepi, namun ternyata ogoh-ogoh bukan bagian dari ritual loh, Greaters. Menurut Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, ogoh-ogoh memang bukan bagian dari ritual tapi ogoh-ogoh merupakan budaya ritual. Ogoh-ogoh lahir dari ritual meski tidak memiliki kaitan penuh dengan upacara perayaan Nyepi.

Pawai ogoh-ogoh baru pertama kali dilaksanakan pada tahun 80-an. Umat Hindu mengusung ogoh-ogoh yang dijadikan satu, lalu diarak mengelilingi desa dengan membawa obor. Pawai ini biasa disebut dengan Ngrupuk. Berhubung pawai ogoh-ogoh ini bukan bagian dari upacara adat, maka ogoh-ogoh baru akan diarak setelah seluruh rangkaian upacara pokok selesai dilaksanakan. Ogoh-ogoh akan diarak dengan diiringi gamelan khas Bali yang dikenal dengan Baleganjur Patung.

Jadi begitu ya Greaters, sekilas tentang pawai ogoh-ogoh yang menjadi penyemarak upacara menjelang Hari Raya Nyepi. Berhubung pawai ogoh-ogoh tidak wajib, maka masyarakat desa adat di Bali sepakat untuk meniadakan kegiatan tersebut di tahun ini sebagai salah satu upaya mengurangi penyebaran wabah Covid-19. Mari kita semua berdoa untuk kesehatan dan keselamatan seluruh rakyat di Indonesia. Selamat Hari Raya Nyepi tahun Saka 1942.

Sumber gambar utama: Visa for Bali

Baca juga Hari Tuberkulosis Sedunia, It's Time to End TB!