Jika sebelumnya kalian baca tulisan tentang ikatan ion dan ikatan kovalen. Maka kalian menemukan istilah keelektronegatifan. Apa itu keelektronegatifan atom? Bagaimana hubungannya dengan ikatan kimia? Simak pembahasannya.

Dimulai dari pengertian keelektronegatifan. Kemampuan menangkap elektron pada suatu atom dapat dilihat dari keelektronegatifannya. Jadi antar atom yang memiliki keelektronegatifan berbeda dapat bergabung dengan ikatan yang kuat.

Perlu diingat bahwa seperti halnya dengan ikatan antara atom logam yang bersifat elektropositif dengan atom non logam yang bersifat elektronegatif. Sehingga ikatan yang terbentuk antar atom non logam dengan keelektronegatifan sama adalah ikatan kovalen. Sedangkan unsur logam tidak terjadi ikatan antarsesamanya karena kecenderungannya yang elektropositif.

Tokoh kimia yang menemukan rancangan skala keelektronegatifan adalah Linus Pauling. Karena jasanya maka muncul yang dinamakan Skala Keelektronegatifan Pauling. Pauling menggunakan konsep kekuatan ikatan yang disebabkan dari adanya ikatan kovalen antar atom yang diperkuat dengan gaya tarik-menarik antar muatan yang berlawanan dari ikatan dipol.


Baca Juga : Cara Mudah Membaca Tabel Periodik Modern


Berdasarkan tabel skala keelektronegatifan kita dapat menentukan jenis ikatan dan sifat suatu senyawa. Perbedaan keelektronegatifan dapat digunakan untuk menentukan polaritas suatu ikatan.Perbedaan keelektronegatifan yang kecil menghasilkan ikatan yang bersifat non polar. Sedangkan perbedaan keelektronegatifan yang besar menjadikan senyawa bersifat ion sempurna.

Patokannya adalah jika perbedaan keelektronegatifan antar atom lebih besar dari 1,7 maka senyawa yang terbentuk mempunyai sifat ionic. Contohnya adalah senyawa dari MgO.

Jika kita melihat tabel diatas maka Keelektronegatifan Mg = 1,3 dan O = 3,5 Jenis unsur logam dan non logam sehingga ikatan yang terjadi adalah ikatan ion. Beda keelektronegatifannya adalah 3,5 – 1,3 = 2,2 sehingga sifat senyawa adalah ionik karena beda keelektronegatifan lebih besar dari 1,7.